Minggu, 05 Maret 2017

kamu, adalah kata pertama yang aku ucapkan


Cinta itu ibaratkan kita menunggu bus. Banyak bus yang lewat tapi kita terus menunggu sampai pada akhirnya kita menemukan yang hanya satu tujuan kadang, yang satu tujuan pun kita harus rela mununggu lagi karena busnya penuh sesak atau malah tak berhenti karena kondekturnya tak melihat kita menunggunya. Padahal kau tau.... menunggu di tempat yang sama setiap hari itu sangat membosankan.
Kamu datang tanpa pemberitahuan. Tanpa pengumuman. Aku hampir tak terima itu.
Aku sudah bilang, aku tak mua jatuh cinta karna jatuh itu sakit.
Aku hanya ingin terbang dengan cinta.
Suatu hari kau pernah bawa aku terbang tinggi dan nyaman sampai akhirnya aku lupa bagaimana rasaanya sakit karena jatuh. Sampai suatu saat ternyata kamu jatuhkan aku sampai ke dasar jurang.
Aku terpuruk ditengah lautan yang sepi.
Kau tau? Aku bilang aku tak mau jatuh cinta.
Friend zone. Meskipun membuatku terluka berulang kali tapi, aku lebih suka dengan status itu.
Aku gak suka putus ! karena itu artinya aku tak lagi bersamamu. tapi kenapa kamu ucapkan. Itu adalah kata tersakit yang pernah aku dengar dari mulutmu yang selalu aku agungkan.
AKU MENCINTAIMU !! tapi kamu merusak semua mimpi aku demi mewujudkan mimpi perempuan lain..
Berapa lama kamu kenal aku ?
Kau ingat Berapa banyak janji yang kamu tawarkan ?
Berapa banyak tempat yang kita kunjungi bersama ?
Berapa lama kamu meluluhkan hati aku, agar aku mau menerima cinta kamu. Padahal kamu tau aku juga sayang kamu. bahkan sebelum kamu. dan kamu tau aku sangat prinsipil, sampai akhirnya kamu yang membuat aku mengingkari prinsipku sendiri.
Sudah kau hitung berapa banyak kamu sakitin aku ?
Meskipun telinga aku sudah terbiasa mendengarkan kamu bercerita tentang perempuan lain.
Mata aku sudah terbiasa melihat kamu bahagia karena melihat perempuan lain.
Hati aku sudah terbiasa merasakan sakit ketika kamu bilang I LOVE YOU pada perempuan lain. Tapi itu dulu, sebelum kamu meruntuhkan prinsip aku untuk hanya tetap menjadi sahabatmu.
Kau tau...
Aku benar-benar percaya padamu..
Aku benar-benar merasa bodoh...
AKU TERLUKA !!! sangat terluka, tapi aku mencintaimu.
Kata orang cinta itu buta. Ya, mungkin aku sekarang sedang benar-benar buta.
Mantra apa sebenarnya yang kau ucapkan ? sampai pandanganku tak luput hanya mencari kamu. Seribu wajah yang aku temui, hanya kamu yang aku cari. Aaaaaahhh.... ini gila !!! aku sudah benar-benar gila.. TIDAK, bukan aku yang gila. Tapi kamu yang gila.
Saat ini aku sedang iri terhadap perempuan itu. Dia tidak melakukan apapun tapi dia bisa mencuri perhatianmu terhadapku.
Aku benci kamu ! tapi aku tidak sanggup mneinggalkanmu walaupun hanya satu langkah.
Aku benci kamu ! tapi kau akan memastikan kau baik – baik saja
Aku benci kamu ! tapi aku akan terus menjadi pendengarmu
Aku benci kamu ! tapi aku akan memastikan tidak ada satu tetes airmata pun yang jatuh.
Kamu sering bilang. Rindu itu mnyakitkan dan itu benar.
Nangis karena patah hati itu gak keren.
Gak moveon itu bukan cewe tangguh.
Dan semuanya sedang aku alami sendiri, penyebab utamanya adalah kamu.
Kamu tau, dibelakang aku saat ini ada yang seperti aku. katanya dia sayang padaku. Melebihi aku sayang kamu. Mungkin...
Tapi saat ini aku belum percaya dia. Menurutku dia hanya seorang pengacau. Dia mengacaukan konsentrasi aku yang sedang menjagamu.
Kamu tau ? dia bilang urusan menjaga itu adalah urusan laki-laki bukan perempuan.
Kamu tau ? dia yang mengobati sedikit demi sedikit luka yang kamu goreskan.
Kamu tau ? aku sekarang sedang takut.
Aku takut, aku berpaling dari kamu. Karena dia.
Aku takut, aku jatuh cinta padanya. Padahal kamu tau aku tidak suka jatuh cinta.
Dan kamu tau ? aku takut untuk melupakanmu dan mengisi semua ingatanku dengannya.
Kamu tau ? dia baik
Kamu tau ? dia lebih putih dari kamu.
Kamu tau ? dia lebih tampan dari kamu.
Kamu tau ? dia lebih muda dari aku. Dan itu konyol !!
Aku dan dia banyak perbedaan, hal itu yang selalu kau permasalahkan. tapi, dia anggap itu mudah. Aku dan dia itu sangat jauh, bahkan lebih jauh dibandingkan dengan mu. Dia adalah orang asing yang ingin menjadi tak asing, sedangkan kamu bukan orang asing malah menjadi sangat asing bagiku. Kamu yang membuat sekat dengaku, tapi dia justru yang membuang sekat antara aku dengannya.
Dia orangnya keras kepala, sama kaya kamu dulu. Dia pernah bilang bahwa aku adalah ketidak mungkinan yang akan dia perjuangkan. Dan itu membuatku semakin takut dekat dengannya. Dan aku takut untuk jatuh cinta padanya, aku takut nyaman dengannya. Karena aku takut dia sama dengan kamu.
  

Jumat, 26 Juni 2015

SABRIANA


SABRIANA....

Tadi pagi seusai santap sahur, aku bergegas mengambil air wudhu untuk selanjutnya bermunajat kepada Allah. Entah mengapa hari ini aku ingin sekali solat subuh berjamaah di mesjid depan gang rumahku, selain memang sepi aku rasa mesjid adalah tempat paling tepat untuk bermunajat meminta segala sesuatu hal kepada pemilikinya. Seusai shalat subuh berjamaah dengan jamaah lain yang mayoritasnya laki-laki (karena jarang sekali perempuan shalat di mesjid) aku tidak langsung bergegas pulang, aku bersantai terlebih dahulu dengan membaca al-quran... terasa tentram hati ini setelah mengucapkan dan meresapi setiap kalam illahi. 

Seusai membenarkan dan merapikan mukena dan peralatan shalat yang lainnya aku baru beranjak pulang dan ini sudah lebih siang, matahari sudah mulai menampakkan wajahnya, deru suara kendaraan sudah mulai berlalu lalang, kaki-kaki mungil itu berlari kesana kemari untuk berangkat sekolah. Aku bahagia melihat semuanya ku syukuri semua nikmat yang engkau berikan kepadaku, beberapa toko sudah mulai dibuka oleh si empunya. Sampai akhirnya perhatianku teralihkan oleh sepasang mata yang kurasa sudah lama memperhatikanku. Aku tidak mengenalinya, wajahnya ia tutupi dengan kerudung hitamnya yang menjuntai sampai hampir menutupi sebagian tubuhnya, aku tidak bersuudzon mungkin dia hanya seorang pengemis yang kebetulan saja berpapasan denganku namanya juga di jalan pasti banyak berbagai orang dengan berbagai profesi termasuk mengemis apalagi ini di bulan ramadhan banyak orang yang memanfaatkan bulan suci ini dengan mengemis padahal mereka pada intinya banyak yang mampu bekerja lain selain menjadi pengemis dan masih bertubuh sehat untuk mencari nafkah yang lebih baik.

Sesaat setelah melewati perempuan tadi aku masih penasaran, ku tengok kembali sosoknya yang kini ada di belakangku, aku mencoba membalikkan badanku hanya untuk sekedar melihatnya dan ternyata subhanallah ia bukan seorang pengemis, melainkan hanya seorang pemungut sampah, aku lihat dia menggendong bak sampah di punggungnya, dia terlihat sangat ringkih sekali dan sepertinya dia sangat kelelahan hingga aku lihat dia berhenti di depan sebuah toko yang masih tutup dan menjajakkan bak sampah yang dia gendong di punggungnya sedaritadi, tidak hanya di kejutkan dengan bak sampah yang dia gendong, mataku semakin terbelalak kembali saat dia merogoh baksampah yang tingginya kira-kira hampir separuh dari badannya yang kecil, seorang bayi mungil dia keluarkan dari dalam bak sampah tersebut, bukan hanya terbelalak melihat kuasa tuhan yang satu ini aku hampir menitikan air mata tapi masih tetap ku tahan.

Aku menghampirinya hanya untuk bertegur sapa atau bahkan untuk mengajaknya mampir sebentar ke tokoku di ujung jalan ini aku merasa iba melihat bayi mungil yang sangat kucel  itu harus tidur di dalam bak sampah. Saat ku hampiri, si ibunya bayi menatapku tajam dan penuh dengan rasa takut, “Iassalamualaikum, bu saya boleh duduk disini?”, dia tidak menjawab salamku, dia hanya memperhatikanku saja dari ujung kerudung sampai dengan unjung sandalku. Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan si ibunya bayi, tapi dia tetap bungkam dan menundukkan kepalanya yang nyaris tak bisa ku tatap matanya, hampir sepuluh menit aku berpura-pura hanya duduk disana dan dia tetap tidak berbicara sepatah katapun. Sampai akhirnya aku putuskan untuk bergegas pulang dan meninggalkan beberapa lembar uang untuknya.

Saat aku bernjak pergi meninggalkan dia yang tak mau berbicara dan bayinya yang tak kudengar menangis di pelukkannya, baru beberapa langkah aku meninggalkannya, aku  mendengar ada orang yang memanggil namaku, “RI...” samar - samar ku dengar benar ada yang memanggilku, ku edarkan pandangan ke sekelilingku mencari sumber suara yang memanggil namaku, hasilnya tak ku temukan, semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ku lanjutkan perjalananku beberapa langkah dari tempatku terdiam tadi, kemudian ku dengar ada yang memanggilku kembali, kali ini sangat jelas dia memanggil namaku dengan lengkap “YUSRI !!!!”, ku cari sumber suara tadi, saat membalikkan badan betapa terkejutnya aku dengan sosok yang sudah ada tepat di belakangku kali ini, perempuan tadi, perempuan pengemis tadi, dia mengetahui namaku? Aku menatapnya heran, tetapi dia terus memanggil namaku “kamu yusri kan?” tanyanya padaku yang masih terpaku menatapnya, kali ini dia bicara padaku.

“iya, saya yusri” ku jawab pertanyaannya masih dengan nada yang teramat heran, ku tatap wajahnya pekat-pekat barangkali aku mengenalinya.
“kamu tidak mengenaliku?” pertanyaan selanjutnya yang dia lontarkan dengan logatnya yang khas, aku masih berfikir siapa orang ini yang mengetahui namaku. Aku masih terdiam tak menjawab, aku hanya memerhatikannya saja, barangkali aku ingat. “aku bina ri, sabriana teman SMP–mu dulu waktu di bengkulu. Aku mencoba mengingatnya kembali, ah ya, aku dulu pernah mempunyai teman yang sangat dekat sewaktu aku di kampung. Tetapi temanku sabriana tidak berkerudung dan sangat cantik, bisa dibilang dia adalah kembang desa. Sabriana yang sekarang berada dihadapanku, Kulitnya lebih gelap dariku, sudah ada sedikit keriput dibagian matanya yang tajam, wajah yang kusam karna mungkin dia sulit hanya untuk sekedar untuk membersihkan wajahnya. 
“hai... sabriana, aku hampir tak mengenalimu” kupeluk dia dengan penuh rasa tak percaya, dan bahagia.

“waah, kamu sukses ya sekarang ri, kuliah dimana?” kali ini dia benar-benar mau berbicara denganku.

“aku kuliah di daerah sini, kebetulan baru pulang dari mesjid depan sana, sini kita duduk” aku mengajaknya duduk di kursi depan sebuah toko. “anakmu tak menangis kau tinggalkan begitu saja di sana?”.

Dia menundukkan wajahnya kembali, apa aku salah?, aku menatapnya dengan penuh pertanyaan, “kenapa na? Kau bawa saja anakmu disini, kasihan kalau di tinggalkan begitu saja disana sendirian”, tak lama sabriana membawa bayinya kehadapanku. Dan astagfirullah ini bukan bayi, tapi ini jasad bayi. Aku tekejut saat melihatnya lebih dekat.
“dia kenapa na?” kulontarkan pertanyaan yang spontan saat melihat bayinya yang sudah terbujur kaku.

“dia sudah meninggal ri, beberapa hari yang lalu” dengan isak tangis yang membuncah sambil menggendong bayi yang kini sudah tidak bernyawa lagi.

“kenapa tidak di makamkan ?kasihan na bayimu”

“aku bahkan tidak punya biaya untuk sekedar memakamkan jasad anakku ini ri,” kali ini tangisnya benar-benar pecah, aku merangkulnya dengan sebelah tanganku, tak terasa titik-titik air yang hangat membanjiri pipiku.

“kita sekarang bawa bayimu ke rumahku yu, kita makamkan disana, bagaimana?” ajakku kepada sabriana.

“makasih ri, aku hanya merepotkanmu saja”

“kita kan saudara, aku tidak sedikitpun merasa di repotkan olehmu”.

Akhirnya bayi sabriana bisa di makamkan dengan proses yang benar dan dengan di bantu oleh warga sekitar rumahku. 

Malamnya seusai tahlilan, aku menemui bina begitu biasa dia kupanggil, di kamarku sambil membawa beberapa makanan, karena dari semenjak buka puasa tadi, dia belum memakan apapun dan hanya membatalkannya dengan minum air putih saja. Kulihat dia sedang terduduk di atas kasur sambil menatap kosong. 

“na, kamu makan dulu ya”. Tidak ada respon, dia hanya diam membungkam mulutnya.
“aku tinggalkan kamu sendiri disini ya na, aku keluar dulu menemui tamu, kamu makan ya na, kasihan tubuhmu membutuhkan banyak tenaga”. Sabriana masih tak mau mengeluarkan suaranya. 

Aku tau kamu sangat terpukul dengan kepergian anakmu na, tapi ini sudah takdir yang allah berikan kepadamu sebagai ujian kepada hambanya yang dirasa mampu untuk melewatinya, aku yakin kamu kuat menjalani semuanya. Allah sayang kepada dirimu hingga buah hatimu ia jemput kembali.

“ri,,,  makasih kamu sudah membantuku”. Dia kini mau berbicara.

“kamu jangan bilang makasih na, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai saudara seimanmu.” “kamu bisa bercerita apapun padaku, kalau kamu mau”.

“aku malu ri,,, aku malu hanya bisa merepotkanmu saja”.

“na,,, aku tidak merasa direpotkan.” Suaraku hampir tercekat karena ingin menangis. Tapi aku masih bisa menahan agar airmataku tak jatuh di hadapan sabriana yang sedang berduka.

“semua ini karna bang teguh na, laki-laki tak bertanggung jawab itu membuat hidupku hancur sampai aku kehilangan segalanya”. Tangis bina mulai membuncah kembali.

“tenang na,, kamu bisa ceritakan semuanya padaku kalau itu bisa membuat ringan bebanmu pikiranmu”. setahuku teguh adalah pacarnya semenjak SMP, aku tidak terlalu begitu mengenal teguh.

“boleh aku tannya na? Teguh itu teman kita sewaktu di SMP?”. Aku sangat berhati-hati melontarkan pertnyaan ini karena takut menyinggung perasaannya. Dan, bina pun menceritakan semuanya.

“iya ri, teguh pacar ku sewaktu kita SMP dulu, aku masih tetap berpacaran dengannya, sampai kita lulus SMP, aku  meneruskan SMA tapi tidak tamat hanya sampai kelas 2 saja karena aku hamil di luar nikah oleh teguh, kami di niakahkan, aku malu, aku merasa banyak dosa ri,,, teguh memang menikahiku secara agama dan secara hukum, bahkan pernikahan kami sangat meriah di kampung, karena ibuku malu bila tidak di meriahkan, katanya anak pertama masa tidak meriah. Aku malu na, tapi ibuku tetap ingin meayakan pernikahanku. Usai pernikahan aku dan teguh pindah ke padang, agar aku bisa menutupi kehamilanku, aku pikir dengan jauh dari kampung aku akan hidup bahagia dengan teguh, tapi ternyata teguh memutuskan untuk menjadi TKI ke arab saudi agar kebutuhan ekonomi kami tercukupi, begitu kata teguh. Sebenarnya aku tidak mengizinkan teguh untuk pergi jauh dariku dan dari anak yang sedang aku kandung, tapi katanya ini untuk bayi kita juga, agar anak kita bisa lahir di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang besar. Akhirnya dengan berat hati aku mengizinkan teguh untuk pergi mencari nafkah nun jauh di tanah arab sana. Tapi, sampai anak kami lahir dia tak kunjung datang bahkan 2 tahun dia tak pulang dan tak memberi kabar, aku kehilangan kontak suamiku ri,,, aku mencrari tahu kesana kemari sambil aku berjualan kue di pasar titipan orang lain yang hasilnya tak seberapa, hanya bisa menutupi untuk makan sehari-hari saja, sedangkan uang kontrakan aku harus menjadi buruh cuci setrika disana sini, anak ku yang masih kecil tak bisa ku tinggalkan sendiri, aku menggendongnya kesana kemari, kasihan dia masih kecil ri,,, bahkan hanya untuk memberikan ASIi saja aku tak bisa, ASI ku tak keuar karena aku terlalu sibuk bekerja dan kelahan. Sampai suatu hari ada tetangga di padang yang memberi kabar kalau dia bertemu teguh di bandung dan sudah beristri lagi, kata tetanggaku dia bertemu dengan teguh saat dia sedang ditugaskan bekerja disana. dengan uang seadanya aku bertekad pergi ke bandung, numpang sana-sini sampai akhirnya aku sampai dibandung, tak kuhitung berapa lama perjalanan dari padang ke bandung karena tujuanku hanya ingin bertemu teguh, keluarga yang bisa ku andalkan hanya teguh, aku tak bisa pulang ke bengkulu karna ibu sudah tak menerima aku lagi, semua tetangga mencibirku karena aku hamil diluar nikah, cibiran itu terus ibuku telan sendiri sampai disaat terakhirnya pun aku tak bisa menemuinya bahkan hanya untuk berkunjung ke makamnya pun aku tak bisa ri...  aku mencari hampir kesemua penjuru bandung tapi tak kutemui sosok teguh, aku terdampar di bandung yang tak tau arah jalan untuk kemana, sampai akhirnya anakku meninggal...”

Kali ini bukan sabriana yang menangis tetapi airmataku yang sudah tak bisa ku bendung lagi, sontak aku memeluk bina.

subhanallah na,,, Allah sangat sayang padamu sampai ia memberi cobaan yang begitu besar,,,, dan allah yakin kamu mampu melewati semuanya, kamu sekarang tidak sendiri na,,, ada aku... aku saudara kamu... kamu boleh tinggal disini semaumu, aku senang kau ada disini, membuka lembaran baru, mendokan anakmu dan ibumu, kita berjuang sama-sama”

Sabriana membalas pelukanku, dia memang orang yang tegar dan kuat, dia adalah sosok orang yang bisa bangkit walaupun di tempa terus-menurus oleh ujianmu ya allah, berikan dia setitik kebahagiaan di atas kekhilafannya di masalalu. Hamba tahu engkau maha pengampun, maka kali ini sudah cukup ujianmu untuknya, engkau adalah maha pengasih dan penyayang terhadap umatnya, dia tak pernah kering memohon ampunanmu atas setiap kesalahannya, maka ampunilah, berikan kahidupan yang bahagia dan masa depan yang menjadikannya pribadi yang lebih baik agar dia bisa menjadi hambamu yang sangat taat.  –the end-

Kamis, 25 Juni 2015

perintah ke 1000


PERINTAH KE 1000

Oleh: yusri nafisah k

Manusia itu datang lagi... kali ini dia membawa monyetnya. Entah harus bahagia atau kecewa yang pasti saat ini aku hanya ingin memeluknya dan menjambak rambutnya sampai dia kesakitan, dia harus merasakan betapa sakit di tinggalkan selama bertahun-tahun tanpa kabar. Tepatnya 3 tahun dia menghilang tanpa kabar dan kali ini dia datang lagi dengan membawa monyet. Manusia itu bernama tino dan monyetnya yang dia perkenalkan padaku bernama kia, aku memanggilnya monyet karena aku tidak terlalu suka dia selalu berada di sekeliling tino, dia terlalu agresif untuk tino, dan aku belum mendapatkan penjelasan yang masuk akal mengapa tino betah berada disisi si monyet itu. Tino itu sahabatku, kita bersahabat cukup lama mungkin karena orangtua kita juga memang bersahabat dan kita ada di lingkungan yang sama, aku tau segala hal tentang tino bahkan dari apa yang tino tau, dan aku tidak yakin kalo si monyet itu tahu lebih banyak dari yang aku tahu tentang tino.

tino pernah bilang kalo persahabatan kita akan abadi selamanya, tapi aku kurang suka dengan pernyataannya itu, aku tidak ingin bersahabat lebih lama dengan dia, aku bisa lebih baik dari sekedar seorang sahabat. 

Hari ini aku mengajak tino ke tempat yang kita suka yaitu pasar malam, kita berdua selalu senang dan melupakan segala hal jika sudah menemukan pasar malam di dekat rumah. Makan arumanis dan sosis besar sambil menaiki bianglala, meskipun tino tidak pernah suka naik bianglala karena menurutnya bianglala lambat dan sempit. atau terkadang kita uji adrenalin dengan memasuki rumah hantu yang tino sangat suka dan aku selalu dibuat nangis olehnya karena dipaksa. Kali ini “kencan” kita tidak terlalu berjalan lancar karena tino membawa kia dan dia terlalu manja. Kali ini aku juga tidak hanya benci kia tapi juga tino. Dia gak asik.
Beberapa hari keberadaan kia di antara aku dan tino sungguh membuat aku tidak mengenal tino seperti dulu. Mungkin sekarang kia lebih mengenal tino daripada aku, dan sekarang aku yang menjadi monyet diantara mereka. Aku tidak terlalu suka dengan keadaan seperti ini. Seolah-olah seluruh kehidupanku,duniaku terjungkir dan tak akan pernah kembali.

Beberapa hal kali ini aku lakukan sendiri, bahkan mengisi dipy pun aku lakukan sendiri, dipy adalah dairy antara aku dan tino, jika kita sedang merasa buruk dipy-lah yang menjadi hati kita dan menjadi mulut agar kita saling berbicara dan segera berbaikan. Tapi sekarang dia benar-benar tidak hanya melupakan aku tapi juga melupakan dipy, beberapa hari yang lalu aku meletakkan dipy di kotak surat didepan rumahnya, sampai saat ini dipy masih saja disana dan tidak berubah posisinya sedikitpun.

Tino memang keterlaluan!!! tapi aku tidak bisa marah padanya secara langsung, aku terlalu takut kalau tino terlalu jauh dari pandanganku jika aku marah secara langsung. Meskipun kini tino ada disini, dirumahnya lagi setelah 3 tahun menghilang tapi aku merasa tino masih belum kembali. Aku rindu tino yang dulu, yang selalu ada disampingku jika aku memerlukannya, yang selalu menungguku saat kita berangkat sekolah, yang selalu mencicipi kue buatanku dan bilang kue buatanku paling enak padahal aku tau kalau kue buatanku memang buruk, tapi itulah tino, dia selalu membuatku bahagia, dia tidak pernah membuatku merasa paling sendiri di dunia ini. Bahkan saat dia menghilang tanpa kabar, dia tidak membuatku sendiri dia memberikan aku teman pengganti yaitu setoples perintah yang harus aku lakukan disaat dia tidak ada disampingku. Dia itu unik dan aku suka, hanya dia mau menemaniku nonton konser padahal aku tahu sekali dia tidak suka nonton konser, tino itu terlalu sempurna untuk duniaku.

Bertahun-tahun kita bersahabat, aku merasa bahwa aku sudah diluar batas merasa memilikinya, pada akhirnya aku harus merelakan dia bahagia dengan yang lain tidak dengan aku, tidak dengan duniaku lagi, tidak dengan semua kebiasaanku, dan tidak dengan aku.

Semuanya sudah aku ungkapkan pada dipy, bahwa aku tidak pernah bisa melepas tino, aku terlalu sayang padanya sampai tercekat semua kata-kata yang ingin aku ungkupakan padanya, tapi jangankan dia membacanya, pada dipy saja mungkin dia sudah lupa. Aku rasa ini bukan sekedar sahabat, rasa ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya, aku tak bisa terlalu lama ditinggalkan olehnya, dan aku mulai tak sanggup melihat senyumnya yang dia berikan kepada wanita lain. 

Sore ini lembayung senja tampak indah, entah karena gara-gara tadi siang hujan hingga menciptakan senja yang indah atau karena memang senja sedang bahagia karena akhirnya ia bisa muncul dan menyambut datangnya malam, yang aku tahu senja selalu tersenyum indah menyambut datangnya malam, mereka hidup dalam tempat yang sama meskipun mereka tak pernah saling bertemu, senja tahu ia tidak lebih indah dari bulan atau bintang yang selalu setia berada disisi sang malam yang dingin, yang ia hanya bisa lakukan hanya tersenyum dengan indah pada saat akan menyambut malam. 

Aku mengambil dipy yang sudah hampir satu minggu diam di kotak pos rumahnya tino, tanpa di sentuh tuannya. Aku membuka dipy dan benar saja bahwa dipy memang tidak pernah bertemu dengan tino, karena di lebar selanjutnya tidak ada tulisan balasan dari tino seperti biasanya. Aku meletakkan dipy begitu saja dan merebahkan badan sejenak di atas kasur. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal penglihatanku, ada yang berbeda dari dipy di bagian paling akhir lembaran dipy ada secarik kertas yang membuatku penasaran, tulisan dari secarik kertas itu adalah “buka perintah biru no 1000”. Tino benar-benar membalasnya, aku senang bukan main tapi apa maksud dari tulisan diatas secarik kertas tadi ya?. Aku tidak bisa memecahkan apa isi tekateki di kertas balasan tino. Semalaman aku berfikir keras tentang tekateki itu “ah,,mungkin tino hanya akan mengerjaiku saja”.

Pagi ini aku bangun dengan sedikit rasa penasaran yang masih menghantui, penasaran dengan maksud dari “perintah biru no 1000”, aku membuka jendela dan mencoba menghirup udara segar dipagi hari dan merasakan riangnya dedaunan yang tertimpa embun, mendengarkan kicauan burung yang riang di atas pohon seolah mereka tidak akan kehabisan suara untuk bersiul indah, langit pagi itu biru dan tidak mau kalah dengan indahnya suara burung dan keceriaan daun bersama embunnya. Biru !!! ya biru aku ingat sekarang dengan apa dari arti “perintah biru no 1000”, perintah toples yang tino berikan padaku. Aku mencoba mengambil toples itu yang masih berisi hampir setengahnya dari yang pertama tino berikan dan aku mencari no 1000, aku membukanya perlahan dan aku membaca setiap huruf yang tertulis di kertas perintah biru no 1000 itu, aku tidak ingin keliru membacanya, aku ulangi beberapa kali untuk membacanya. Setelah membaca isi dari perintah itu aku bergegas mencari tino kerumahnya, dan aku memasuki kamar tino, aku menemukan tino masih tidur, dan aku terkejut melihat apa yang memenuhi dinding kamarnya, itu adalah kertas-kertas perintah yang berada di dalam toples yang selalu aku buang jika sudah aku kerjakan dan yang membuat aku semakin terkejut adalah potongan-potongan kertas itu membentuk seulas senyum, ya, potongan kertas itu membentuk wajahku. Tak terasa tetesan air hangat mengalir dipipiku sampai-sampai membangunkan tino dari tidurnya. Aku tidak ingin memperlihatkan wajah sembabku dihadapan tino, aku terus membelakanginya dan tak menoleh sedikitpun meskipun dia memanggilku beberapa kali, aku tak bisa berkata apa-apa dan yang bisa aku lakukan saat ini hanya diam dan merasakan titik-titik air hangat yang keluar dari mata terus mengalir di pipiku tanpa bisa ku bendung, tino memelukku dan mengatakan kata-kata ajaibnya yang membuat tangisku lebih pecah di pelukkannya, “cinta ini ada, masih seperti dulu saat kita bersama sebagai sahabat kecil, cinta ini masih ada bahkan saat kita tidak ada dalam hari yang sama dan tempat yang sama, cinta ini selalu ada bahkan saat kamu berfikir kita tidak bisa bersama, meskipun aku harus menunggunya lebih dari seribu hari”.

Dan isi dari perintah biru ke 1000 itu adalah “cintai aku, sekarang juga!”.
~Selesai~