Jumat, 26 Juni 2015

SABRIANA


SABRIANA....

Tadi pagi seusai santap sahur, aku bergegas mengambil air wudhu untuk selanjutnya bermunajat kepada Allah. Entah mengapa hari ini aku ingin sekali solat subuh berjamaah di mesjid depan gang rumahku, selain memang sepi aku rasa mesjid adalah tempat paling tepat untuk bermunajat meminta segala sesuatu hal kepada pemilikinya. Seusai shalat subuh berjamaah dengan jamaah lain yang mayoritasnya laki-laki (karena jarang sekali perempuan shalat di mesjid) aku tidak langsung bergegas pulang, aku bersantai terlebih dahulu dengan membaca al-quran... terasa tentram hati ini setelah mengucapkan dan meresapi setiap kalam illahi. 

Seusai membenarkan dan merapikan mukena dan peralatan shalat yang lainnya aku baru beranjak pulang dan ini sudah lebih siang, matahari sudah mulai menampakkan wajahnya, deru suara kendaraan sudah mulai berlalu lalang, kaki-kaki mungil itu berlari kesana kemari untuk berangkat sekolah. Aku bahagia melihat semuanya ku syukuri semua nikmat yang engkau berikan kepadaku, beberapa toko sudah mulai dibuka oleh si empunya. Sampai akhirnya perhatianku teralihkan oleh sepasang mata yang kurasa sudah lama memperhatikanku. Aku tidak mengenalinya, wajahnya ia tutupi dengan kerudung hitamnya yang menjuntai sampai hampir menutupi sebagian tubuhnya, aku tidak bersuudzon mungkin dia hanya seorang pengemis yang kebetulan saja berpapasan denganku namanya juga di jalan pasti banyak berbagai orang dengan berbagai profesi termasuk mengemis apalagi ini di bulan ramadhan banyak orang yang memanfaatkan bulan suci ini dengan mengemis padahal mereka pada intinya banyak yang mampu bekerja lain selain menjadi pengemis dan masih bertubuh sehat untuk mencari nafkah yang lebih baik.

Sesaat setelah melewati perempuan tadi aku masih penasaran, ku tengok kembali sosoknya yang kini ada di belakangku, aku mencoba membalikkan badanku hanya untuk sekedar melihatnya dan ternyata subhanallah ia bukan seorang pengemis, melainkan hanya seorang pemungut sampah, aku lihat dia menggendong bak sampah di punggungnya, dia terlihat sangat ringkih sekali dan sepertinya dia sangat kelelahan hingga aku lihat dia berhenti di depan sebuah toko yang masih tutup dan menjajakkan bak sampah yang dia gendong di punggungnya sedaritadi, tidak hanya di kejutkan dengan bak sampah yang dia gendong, mataku semakin terbelalak kembali saat dia merogoh baksampah yang tingginya kira-kira hampir separuh dari badannya yang kecil, seorang bayi mungil dia keluarkan dari dalam bak sampah tersebut, bukan hanya terbelalak melihat kuasa tuhan yang satu ini aku hampir menitikan air mata tapi masih tetap ku tahan.

Aku menghampirinya hanya untuk bertegur sapa atau bahkan untuk mengajaknya mampir sebentar ke tokoku di ujung jalan ini aku merasa iba melihat bayi mungil yang sangat kucel  itu harus tidur di dalam bak sampah. Saat ku hampiri, si ibunya bayi menatapku tajam dan penuh dengan rasa takut, “Iassalamualaikum, bu saya boleh duduk disini?”, dia tidak menjawab salamku, dia hanya memperhatikanku saja dari ujung kerudung sampai dengan unjung sandalku. Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan si ibunya bayi, tapi dia tetap bungkam dan menundukkan kepalanya yang nyaris tak bisa ku tatap matanya, hampir sepuluh menit aku berpura-pura hanya duduk disana dan dia tetap tidak berbicara sepatah katapun. Sampai akhirnya aku putuskan untuk bergegas pulang dan meninggalkan beberapa lembar uang untuknya.

Saat aku bernjak pergi meninggalkan dia yang tak mau berbicara dan bayinya yang tak kudengar menangis di pelukkannya, baru beberapa langkah aku meninggalkannya, aku  mendengar ada orang yang memanggil namaku, “RI...” samar - samar ku dengar benar ada yang memanggilku, ku edarkan pandangan ke sekelilingku mencari sumber suara yang memanggil namaku, hasilnya tak ku temukan, semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ku lanjutkan perjalananku beberapa langkah dari tempatku terdiam tadi, kemudian ku dengar ada yang memanggilku kembali, kali ini sangat jelas dia memanggil namaku dengan lengkap “YUSRI !!!!”, ku cari sumber suara tadi, saat membalikkan badan betapa terkejutnya aku dengan sosok yang sudah ada tepat di belakangku kali ini, perempuan tadi, perempuan pengemis tadi, dia mengetahui namaku? Aku menatapnya heran, tetapi dia terus memanggil namaku “kamu yusri kan?” tanyanya padaku yang masih terpaku menatapnya, kali ini dia bicara padaku.

“iya, saya yusri” ku jawab pertanyaannya masih dengan nada yang teramat heran, ku tatap wajahnya pekat-pekat barangkali aku mengenalinya.
“kamu tidak mengenaliku?” pertanyaan selanjutnya yang dia lontarkan dengan logatnya yang khas, aku masih berfikir siapa orang ini yang mengetahui namaku. Aku masih terdiam tak menjawab, aku hanya memerhatikannya saja, barangkali aku ingat. “aku bina ri, sabriana teman SMP–mu dulu waktu di bengkulu. Aku mencoba mengingatnya kembali, ah ya, aku dulu pernah mempunyai teman yang sangat dekat sewaktu aku di kampung. Tetapi temanku sabriana tidak berkerudung dan sangat cantik, bisa dibilang dia adalah kembang desa. Sabriana yang sekarang berada dihadapanku, Kulitnya lebih gelap dariku, sudah ada sedikit keriput dibagian matanya yang tajam, wajah yang kusam karna mungkin dia sulit hanya untuk sekedar untuk membersihkan wajahnya. 
“hai... sabriana, aku hampir tak mengenalimu” kupeluk dia dengan penuh rasa tak percaya, dan bahagia.

“waah, kamu sukses ya sekarang ri, kuliah dimana?” kali ini dia benar-benar mau berbicara denganku.

“aku kuliah di daerah sini, kebetulan baru pulang dari mesjid depan sana, sini kita duduk” aku mengajaknya duduk di kursi depan sebuah toko. “anakmu tak menangis kau tinggalkan begitu saja di sana?”.

Dia menundukkan wajahnya kembali, apa aku salah?, aku menatapnya dengan penuh pertanyaan, “kenapa na? Kau bawa saja anakmu disini, kasihan kalau di tinggalkan begitu saja disana sendirian”, tak lama sabriana membawa bayinya kehadapanku. Dan astagfirullah ini bukan bayi, tapi ini jasad bayi. Aku tekejut saat melihatnya lebih dekat.
“dia kenapa na?” kulontarkan pertanyaan yang spontan saat melihat bayinya yang sudah terbujur kaku.

“dia sudah meninggal ri, beberapa hari yang lalu” dengan isak tangis yang membuncah sambil menggendong bayi yang kini sudah tidak bernyawa lagi.

“kenapa tidak di makamkan ?kasihan na bayimu”

“aku bahkan tidak punya biaya untuk sekedar memakamkan jasad anakku ini ri,” kali ini tangisnya benar-benar pecah, aku merangkulnya dengan sebelah tanganku, tak terasa titik-titik air yang hangat membanjiri pipiku.

“kita sekarang bawa bayimu ke rumahku yu, kita makamkan disana, bagaimana?” ajakku kepada sabriana.

“makasih ri, aku hanya merepotkanmu saja”

“kita kan saudara, aku tidak sedikitpun merasa di repotkan olehmu”.

Akhirnya bayi sabriana bisa di makamkan dengan proses yang benar dan dengan di bantu oleh warga sekitar rumahku. 

Malamnya seusai tahlilan, aku menemui bina begitu biasa dia kupanggil, di kamarku sambil membawa beberapa makanan, karena dari semenjak buka puasa tadi, dia belum memakan apapun dan hanya membatalkannya dengan minum air putih saja. Kulihat dia sedang terduduk di atas kasur sambil menatap kosong. 

“na, kamu makan dulu ya”. Tidak ada respon, dia hanya diam membungkam mulutnya.
“aku tinggalkan kamu sendiri disini ya na, aku keluar dulu menemui tamu, kamu makan ya na, kasihan tubuhmu membutuhkan banyak tenaga”. Sabriana masih tak mau mengeluarkan suaranya. 

Aku tau kamu sangat terpukul dengan kepergian anakmu na, tapi ini sudah takdir yang allah berikan kepadamu sebagai ujian kepada hambanya yang dirasa mampu untuk melewatinya, aku yakin kamu kuat menjalani semuanya. Allah sayang kepada dirimu hingga buah hatimu ia jemput kembali.

“ri,,,  makasih kamu sudah membantuku”. Dia kini mau berbicara.

“kamu jangan bilang makasih na, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai saudara seimanmu.” “kamu bisa bercerita apapun padaku, kalau kamu mau”.

“aku malu ri,,, aku malu hanya bisa merepotkanmu saja”.

“na,,, aku tidak merasa direpotkan.” Suaraku hampir tercekat karena ingin menangis. Tapi aku masih bisa menahan agar airmataku tak jatuh di hadapan sabriana yang sedang berduka.

“semua ini karna bang teguh na, laki-laki tak bertanggung jawab itu membuat hidupku hancur sampai aku kehilangan segalanya”. Tangis bina mulai membuncah kembali.

“tenang na,, kamu bisa ceritakan semuanya padaku kalau itu bisa membuat ringan bebanmu pikiranmu”. setahuku teguh adalah pacarnya semenjak SMP, aku tidak terlalu begitu mengenal teguh.

“boleh aku tannya na? Teguh itu teman kita sewaktu di SMP?”. Aku sangat berhati-hati melontarkan pertnyaan ini karena takut menyinggung perasaannya. Dan, bina pun menceritakan semuanya.

“iya ri, teguh pacar ku sewaktu kita SMP dulu, aku masih tetap berpacaran dengannya, sampai kita lulus SMP, aku  meneruskan SMA tapi tidak tamat hanya sampai kelas 2 saja karena aku hamil di luar nikah oleh teguh, kami di niakahkan, aku malu, aku merasa banyak dosa ri,,, teguh memang menikahiku secara agama dan secara hukum, bahkan pernikahan kami sangat meriah di kampung, karena ibuku malu bila tidak di meriahkan, katanya anak pertama masa tidak meriah. Aku malu na, tapi ibuku tetap ingin meayakan pernikahanku. Usai pernikahan aku dan teguh pindah ke padang, agar aku bisa menutupi kehamilanku, aku pikir dengan jauh dari kampung aku akan hidup bahagia dengan teguh, tapi ternyata teguh memutuskan untuk menjadi TKI ke arab saudi agar kebutuhan ekonomi kami tercukupi, begitu kata teguh. Sebenarnya aku tidak mengizinkan teguh untuk pergi jauh dariku dan dari anak yang sedang aku kandung, tapi katanya ini untuk bayi kita juga, agar anak kita bisa lahir di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang besar. Akhirnya dengan berat hati aku mengizinkan teguh untuk pergi mencari nafkah nun jauh di tanah arab sana. Tapi, sampai anak kami lahir dia tak kunjung datang bahkan 2 tahun dia tak pulang dan tak memberi kabar, aku kehilangan kontak suamiku ri,,, aku mencrari tahu kesana kemari sambil aku berjualan kue di pasar titipan orang lain yang hasilnya tak seberapa, hanya bisa menutupi untuk makan sehari-hari saja, sedangkan uang kontrakan aku harus menjadi buruh cuci setrika disana sini, anak ku yang masih kecil tak bisa ku tinggalkan sendiri, aku menggendongnya kesana kemari, kasihan dia masih kecil ri,,, bahkan hanya untuk memberikan ASIi saja aku tak bisa, ASI ku tak keuar karena aku terlalu sibuk bekerja dan kelahan. Sampai suatu hari ada tetangga di padang yang memberi kabar kalau dia bertemu teguh di bandung dan sudah beristri lagi, kata tetanggaku dia bertemu dengan teguh saat dia sedang ditugaskan bekerja disana. dengan uang seadanya aku bertekad pergi ke bandung, numpang sana-sini sampai akhirnya aku sampai dibandung, tak kuhitung berapa lama perjalanan dari padang ke bandung karena tujuanku hanya ingin bertemu teguh, keluarga yang bisa ku andalkan hanya teguh, aku tak bisa pulang ke bengkulu karna ibu sudah tak menerima aku lagi, semua tetangga mencibirku karena aku hamil diluar nikah, cibiran itu terus ibuku telan sendiri sampai disaat terakhirnya pun aku tak bisa menemuinya bahkan hanya untuk berkunjung ke makamnya pun aku tak bisa ri...  aku mencari hampir kesemua penjuru bandung tapi tak kutemui sosok teguh, aku terdampar di bandung yang tak tau arah jalan untuk kemana, sampai akhirnya anakku meninggal...”

Kali ini bukan sabriana yang menangis tetapi airmataku yang sudah tak bisa ku bendung lagi, sontak aku memeluk bina.

subhanallah na,,, Allah sangat sayang padamu sampai ia memberi cobaan yang begitu besar,,,, dan allah yakin kamu mampu melewati semuanya, kamu sekarang tidak sendiri na,,, ada aku... aku saudara kamu... kamu boleh tinggal disini semaumu, aku senang kau ada disini, membuka lembaran baru, mendokan anakmu dan ibumu, kita berjuang sama-sama”

Sabriana membalas pelukanku, dia memang orang yang tegar dan kuat, dia adalah sosok orang yang bisa bangkit walaupun di tempa terus-menurus oleh ujianmu ya allah, berikan dia setitik kebahagiaan di atas kekhilafannya di masalalu. Hamba tahu engkau maha pengampun, maka kali ini sudah cukup ujianmu untuknya, engkau adalah maha pengasih dan penyayang terhadap umatnya, dia tak pernah kering memohon ampunanmu atas setiap kesalahannya, maka ampunilah, berikan kahidupan yang bahagia dan masa depan yang menjadikannya pribadi yang lebih baik agar dia bisa menjadi hambamu yang sangat taat.  –the end-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar