PERINTAH KE 1000
Oleh: yusri nafisah k
Manusia itu datang lagi... kali ini dia membawa monyetnya.
Entah harus bahagia atau kecewa yang pasti saat ini aku hanya ingin memeluknya
dan menjambak rambutnya sampai dia kesakitan, dia harus merasakan betapa sakit
di tinggalkan selama bertahun-tahun tanpa kabar. Tepatnya 3 tahun dia
menghilang tanpa kabar dan kali ini dia datang lagi dengan membawa monyet.
Manusia itu bernama tino dan monyetnya yang dia perkenalkan padaku bernama kia,
aku memanggilnya monyet karena aku tidak terlalu suka dia selalu berada di
sekeliling tino, dia terlalu agresif untuk tino, dan aku belum mendapatkan
penjelasan yang masuk akal mengapa tino betah berada disisi si monyet itu. Tino
itu sahabatku, kita bersahabat cukup lama mungkin karena orangtua kita juga
memang bersahabat dan kita ada di lingkungan yang sama, aku tau segala hal
tentang tino bahkan dari apa yang tino tau, dan aku tidak yakin kalo si monyet
itu tahu lebih banyak dari yang aku tahu tentang tino.
tino pernah bilang kalo persahabatan kita akan abadi
selamanya, tapi aku kurang suka dengan pernyataannya itu, aku tidak ingin bersahabat
lebih lama dengan dia, aku bisa lebih baik dari sekedar seorang sahabat.
Hari ini aku mengajak tino ke tempat yang kita suka yaitu
pasar malam, kita berdua selalu senang dan melupakan segala hal jika sudah
menemukan pasar malam di dekat rumah. Makan arumanis dan sosis besar sambil
menaiki bianglala, meskipun tino tidak pernah suka naik bianglala karena
menurutnya bianglala lambat dan sempit. atau terkadang kita uji adrenalin
dengan memasuki rumah hantu yang tino sangat suka dan aku selalu dibuat nangis
olehnya karena dipaksa. Kali ini “kencan” kita tidak terlalu berjalan lancar
karena tino membawa kia dan dia terlalu manja. Kali ini aku juga tidak hanya
benci kia tapi juga tino. Dia gak asik.
Beberapa hari keberadaan kia di antara aku dan tino sungguh
membuat aku tidak mengenal tino seperti dulu. Mungkin sekarang kia lebih
mengenal tino daripada aku, dan sekarang aku yang menjadi monyet diantara
mereka. Aku tidak terlalu suka dengan keadaan seperti ini. Seolah-olah seluruh
kehidupanku,duniaku terjungkir dan tak akan pernah kembali.
Beberapa hal kali ini aku lakukan sendiri, bahkan mengisi dipy
pun aku lakukan sendiri, dipy adalah dairy antara aku dan tino, jika kita
sedang merasa buruk dipy-lah yang menjadi hati kita dan menjadi mulut agar kita
saling berbicara dan segera berbaikan. Tapi sekarang dia benar-benar tidak
hanya melupakan aku tapi juga melupakan dipy, beberapa hari yang lalu aku
meletakkan dipy di kotak surat didepan rumahnya, sampai saat ini dipy masih
saja disana dan tidak berubah posisinya sedikitpun.
Tino memang keterlaluan!!! tapi aku tidak bisa marah padanya
secara langsung, aku terlalu takut kalau tino terlalu jauh dari pandanganku
jika aku marah secara langsung. Meskipun kini tino ada disini, dirumahnya lagi
setelah 3 tahun menghilang tapi aku merasa tino masih belum kembali. Aku rindu
tino yang dulu, yang selalu ada disampingku jika aku memerlukannya, yang selalu
menungguku saat kita berangkat sekolah, yang selalu mencicipi kue buatanku dan
bilang kue buatanku paling enak padahal aku tau kalau kue buatanku memang
buruk, tapi itulah tino, dia selalu membuatku bahagia, dia tidak pernah
membuatku merasa paling sendiri di dunia ini. Bahkan saat dia menghilang tanpa
kabar, dia tidak membuatku sendiri dia memberikan aku teman pengganti yaitu
setoples perintah yang harus aku lakukan disaat dia tidak ada disampingku. Dia
itu unik dan aku suka, hanya dia mau menemaniku nonton konser padahal aku tahu
sekali dia tidak suka nonton konser, tino itu terlalu sempurna untuk duniaku.
Bertahun-tahun kita bersahabat, aku merasa bahwa aku sudah
diluar batas merasa memilikinya, pada akhirnya aku harus merelakan dia bahagia
dengan yang lain tidak dengan aku, tidak dengan duniaku lagi, tidak dengan
semua kebiasaanku, dan tidak dengan aku.
Semuanya sudah aku ungkapkan pada dipy, bahwa aku tidak pernah
bisa melepas tino, aku terlalu sayang padanya sampai tercekat semua kata-kata
yang ingin aku ungkupakan padanya, tapi jangankan dia membacanya, pada dipy
saja mungkin dia sudah lupa. Aku rasa ini bukan sekedar sahabat, rasa ini
sangat berbeda dengan yang sebelumnya, aku tak bisa terlalu lama ditinggalkan
olehnya, dan aku mulai tak sanggup melihat senyumnya yang dia berikan kepada
wanita lain.
Sore ini lembayung senja tampak indah, entah karena gara-gara
tadi siang hujan hingga menciptakan senja yang indah atau karena memang senja
sedang bahagia karena akhirnya ia bisa muncul dan menyambut datangnya malam,
yang aku tahu senja selalu tersenyum indah menyambut datangnya malam, mereka
hidup dalam tempat yang sama meskipun mereka tak pernah saling bertemu, senja
tahu ia tidak lebih indah dari bulan atau bintang yang selalu setia berada
disisi sang malam yang dingin, yang ia hanya bisa lakukan hanya tersenyum
dengan indah pada saat akan menyambut malam.
Aku mengambil dipy yang sudah hampir satu minggu diam di kotak
pos rumahnya tino, tanpa di sentuh tuannya. Aku membuka dipy dan benar saja
bahwa dipy memang tidak pernah bertemu dengan tino, karena di lebar selanjutnya
tidak ada tulisan balasan dari tino seperti biasanya. Aku meletakkan dipy
begitu saja dan merebahkan badan sejenak di atas kasur. Tapi, ada sesuatu yang
mengganjal penglihatanku, ada yang berbeda dari dipy di bagian paling akhir
lembaran dipy ada secarik kertas yang membuatku penasaran, tulisan dari secarik
kertas itu adalah “buka perintah biru no 1000”. Tino benar-benar membalasnya,
aku senang bukan main tapi apa maksud dari tulisan diatas secarik kertas tadi
ya?. Aku tidak bisa memecahkan apa isi tekateki di kertas balasan tino.
Semalaman aku berfikir keras tentang tekateki itu “ah,,mungkin tino hanya akan
mengerjaiku saja”.
Pagi ini aku bangun dengan sedikit rasa penasaran yang masih
menghantui, penasaran dengan maksud dari “perintah biru no 1000”, aku membuka
jendela dan mencoba menghirup udara segar dipagi hari dan merasakan riangnya
dedaunan yang tertimpa embun, mendengarkan kicauan burung yang riang di atas
pohon seolah mereka tidak akan kehabisan suara untuk bersiul indah, langit pagi
itu biru dan tidak mau kalah dengan indahnya suara burung dan keceriaan daun
bersama embunnya. Biru !!! ya biru aku ingat sekarang dengan apa dari arti
“perintah biru no 1000”, perintah toples yang tino berikan padaku. Aku mencoba
mengambil toples itu yang masih berisi hampir setengahnya dari yang pertama
tino berikan dan aku mencari no 1000, aku membukanya perlahan dan aku membaca
setiap huruf yang tertulis di kertas perintah biru no 1000 itu, aku tidak ingin
keliru membacanya, aku ulangi beberapa kali untuk membacanya. Setelah membaca
isi dari perintah itu aku bergegas mencari tino kerumahnya, dan aku memasuki
kamar tino, aku menemukan tino masih tidur, dan aku terkejut melihat apa yang
memenuhi dinding kamarnya, itu adalah kertas-kertas perintah yang berada di
dalam toples yang selalu aku buang jika sudah aku kerjakan dan yang membuat aku
semakin terkejut adalah potongan-potongan kertas itu membentuk seulas senyum,
ya, potongan kertas itu membentuk wajahku. Tak terasa tetesan air hangat
mengalir dipipiku sampai-sampai membangunkan tino dari tidurnya. Aku tidak
ingin memperlihatkan wajah sembabku dihadapan tino, aku terus membelakanginya
dan tak menoleh sedikitpun meskipun dia memanggilku beberapa kali, aku tak bisa
berkata apa-apa dan yang bisa aku lakukan saat ini hanya diam dan merasakan
titik-titik air hangat yang keluar dari mata terus mengalir di pipiku tanpa
bisa ku bendung, tino memelukku dan mengatakan kata-kata ajaibnya yang membuat
tangisku lebih pecah di pelukkannya, “cinta ini ada, masih seperti dulu saat
kita bersama sebagai sahabat kecil, cinta ini masih ada bahkan saat kita tidak
ada dalam hari yang sama dan tempat yang sama, cinta ini selalu ada bahkan saat
kamu berfikir kita tidak bisa bersama, meskipun aku harus menunggunya lebih
dari seribu hari”.
Dan isi dari perintah biru ke 1000 itu adalah “cintai aku,
sekarang juga!”.
~Selesai~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar