Kamis, 25 Juni 2015

perintah ke 1000


PERINTAH KE 1000

Oleh: yusri nafisah k

Manusia itu datang lagi... kali ini dia membawa monyetnya. Entah harus bahagia atau kecewa yang pasti saat ini aku hanya ingin memeluknya dan menjambak rambutnya sampai dia kesakitan, dia harus merasakan betapa sakit di tinggalkan selama bertahun-tahun tanpa kabar. Tepatnya 3 tahun dia menghilang tanpa kabar dan kali ini dia datang lagi dengan membawa monyet. Manusia itu bernama tino dan monyetnya yang dia perkenalkan padaku bernama kia, aku memanggilnya monyet karena aku tidak terlalu suka dia selalu berada di sekeliling tino, dia terlalu agresif untuk tino, dan aku belum mendapatkan penjelasan yang masuk akal mengapa tino betah berada disisi si monyet itu. Tino itu sahabatku, kita bersahabat cukup lama mungkin karena orangtua kita juga memang bersahabat dan kita ada di lingkungan yang sama, aku tau segala hal tentang tino bahkan dari apa yang tino tau, dan aku tidak yakin kalo si monyet itu tahu lebih banyak dari yang aku tahu tentang tino.

tino pernah bilang kalo persahabatan kita akan abadi selamanya, tapi aku kurang suka dengan pernyataannya itu, aku tidak ingin bersahabat lebih lama dengan dia, aku bisa lebih baik dari sekedar seorang sahabat. 

Hari ini aku mengajak tino ke tempat yang kita suka yaitu pasar malam, kita berdua selalu senang dan melupakan segala hal jika sudah menemukan pasar malam di dekat rumah. Makan arumanis dan sosis besar sambil menaiki bianglala, meskipun tino tidak pernah suka naik bianglala karena menurutnya bianglala lambat dan sempit. atau terkadang kita uji adrenalin dengan memasuki rumah hantu yang tino sangat suka dan aku selalu dibuat nangis olehnya karena dipaksa. Kali ini “kencan” kita tidak terlalu berjalan lancar karena tino membawa kia dan dia terlalu manja. Kali ini aku juga tidak hanya benci kia tapi juga tino. Dia gak asik.
Beberapa hari keberadaan kia di antara aku dan tino sungguh membuat aku tidak mengenal tino seperti dulu. Mungkin sekarang kia lebih mengenal tino daripada aku, dan sekarang aku yang menjadi monyet diantara mereka. Aku tidak terlalu suka dengan keadaan seperti ini. Seolah-olah seluruh kehidupanku,duniaku terjungkir dan tak akan pernah kembali.

Beberapa hal kali ini aku lakukan sendiri, bahkan mengisi dipy pun aku lakukan sendiri, dipy adalah dairy antara aku dan tino, jika kita sedang merasa buruk dipy-lah yang menjadi hati kita dan menjadi mulut agar kita saling berbicara dan segera berbaikan. Tapi sekarang dia benar-benar tidak hanya melupakan aku tapi juga melupakan dipy, beberapa hari yang lalu aku meletakkan dipy di kotak surat didepan rumahnya, sampai saat ini dipy masih saja disana dan tidak berubah posisinya sedikitpun.

Tino memang keterlaluan!!! tapi aku tidak bisa marah padanya secara langsung, aku terlalu takut kalau tino terlalu jauh dari pandanganku jika aku marah secara langsung. Meskipun kini tino ada disini, dirumahnya lagi setelah 3 tahun menghilang tapi aku merasa tino masih belum kembali. Aku rindu tino yang dulu, yang selalu ada disampingku jika aku memerlukannya, yang selalu menungguku saat kita berangkat sekolah, yang selalu mencicipi kue buatanku dan bilang kue buatanku paling enak padahal aku tau kalau kue buatanku memang buruk, tapi itulah tino, dia selalu membuatku bahagia, dia tidak pernah membuatku merasa paling sendiri di dunia ini. Bahkan saat dia menghilang tanpa kabar, dia tidak membuatku sendiri dia memberikan aku teman pengganti yaitu setoples perintah yang harus aku lakukan disaat dia tidak ada disampingku. Dia itu unik dan aku suka, hanya dia mau menemaniku nonton konser padahal aku tahu sekali dia tidak suka nonton konser, tino itu terlalu sempurna untuk duniaku.

Bertahun-tahun kita bersahabat, aku merasa bahwa aku sudah diluar batas merasa memilikinya, pada akhirnya aku harus merelakan dia bahagia dengan yang lain tidak dengan aku, tidak dengan duniaku lagi, tidak dengan semua kebiasaanku, dan tidak dengan aku.

Semuanya sudah aku ungkapkan pada dipy, bahwa aku tidak pernah bisa melepas tino, aku terlalu sayang padanya sampai tercekat semua kata-kata yang ingin aku ungkupakan padanya, tapi jangankan dia membacanya, pada dipy saja mungkin dia sudah lupa. Aku rasa ini bukan sekedar sahabat, rasa ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya, aku tak bisa terlalu lama ditinggalkan olehnya, dan aku mulai tak sanggup melihat senyumnya yang dia berikan kepada wanita lain. 

Sore ini lembayung senja tampak indah, entah karena gara-gara tadi siang hujan hingga menciptakan senja yang indah atau karena memang senja sedang bahagia karena akhirnya ia bisa muncul dan menyambut datangnya malam, yang aku tahu senja selalu tersenyum indah menyambut datangnya malam, mereka hidup dalam tempat yang sama meskipun mereka tak pernah saling bertemu, senja tahu ia tidak lebih indah dari bulan atau bintang yang selalu setia berada disisi sang malam yang dingin, yang ia hanya bisa lakukan hanya tersenyum dengan indah pada saat akan menyambut malam. 

Aku mengambil dipy yang sudah hampir satu minggu diam di kotak pos rumahnya tino, tanpa di sentuh tuannya. Aku membuka dipy dan benar saja bahwa dipy memang tidak pernah bertemu dengan tino, karena di lebar selanjutnya tidak ada tulisan balasan dari tino seperti biasanya. Aku meletakkan dipy begitu saja dan merebahkan badan sejenak di atas kasur. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal penglihatanku, ada yang berbeda dari dipy di bagian paling akhir lembaran dipy ada secarik kertas yang membuatku penasaran, tulisan dari secarik kertas itu adalah “buka perintah biru no 1000”. Tino benar-benar membalasnya, aku senang bukan main tapi apa maksud dari tulisan diatas secarik kertas tadi ya?. Aku tidak bisa memecahkan apa isi tekateki di kertas balasan tino. Semalaman aku berfikir keras tentang tekateki itu “ah,,mungkin tino hanya akan mengerjaiku saja”.

Pagi ini aku bangun dengan sedikit rasa penasaran yang masih menghantui, penasaran dengan maksud dari “perintah biru no 1000”, aku membuka jendela dan mencoba menghirup udara segar dipagi hari dan merasakan riangnya dedaunan yang tertimpa embun, mendengarkan kicauan burung yang riang di atas pohon seolah mereka tidak akan kehabisan suara untuk bersiul indah, langit pagi itu biru dan tidak mau kalah dengan indahnya suara burung dan keceriaan daun bersama embunnya. Biru !!! ya biru aku ingat sekarang dengan apa dari arti “perintah biru no 1000”, perintah toples yang tino berikan padaku. Aku mencoba mengambil toples itu yang masih berisi hampir setengahnya dari yang pertama tino berikan dan aku mencari no 1000, aku membukanya perlahan dan aku membaca setiap huruf yang tertulis di kertas perintah biru no 1000 itu, aku tidak ingin keliru membacanya, aku ulangi beberapa kali untuk membacanya. Setelah membaca isi dari perintah itu aku bergegas mencari tino kerumahnya, dan aku memasuki kamar tino, aku menemukan tino masih tidur, dan aku terkejut melihat apa yang memenuhi dinding kamarnya, itu adalah kertas-kertas perintah yang berada di dalam toples yang selalu aku buang jika sudah aku kerjakan dan yang membuat aku semakin terkejut adalah potongan-potongan kertas itu membentuk seulas senyum, ya, potongan kertas itu membentuk wajahku. Tak terasa tetesan air hangat mengalir dipipiku sampai-sampai membangunkan tino dari tidurnya. Aku tidak ingin memperlihatkan wajah sembabku dihadapan tino, aku terus membelakanginya dan tak menoleh sedikitpun meskipun dia memanggilku beberapa kali, aku tak bisa berkata apa-apa dan yang bisa aku lakukan saat ini hanya diam dan merasakan titik-titik air hangat yang keluar dari mata terus mengalir di pipiku tanpa bisa ku bendung, tino memelukku dan mengatakan kata-kata ajaibnya yang membuat tangisku lebih pecah di pelukkannya, “cinta ini ada, masih seperti dulu saat kita bersama sebagai sahabat kecil, cinta ini masih ada bahkan saat kita tidak ada dalam hari yang sama dan tempat yang sama, cinta ini selalu ada bahkan saat kamu berfikir kita tidak bisa bersama, meskipun aku harus menunggunya lebih dari seribu hari”.

Dan isi dari perintah biru ke 1000 itu adalah “cintai aku, sekarang juga!”.
~Selesai~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar