Jumat, 26 Juni 2015

SABRIANA


SABRIANA....

Tadi pagi seusai santap sahur, aku bergegas mengambil air wudhu untuk selanjutnya bermunajat kepada Allah. Entah mengapa hari ini aku ingin sekali solat subuh berjamaah di mesjid depan gang rumahku, selain memang sepi aku rasa mesjid adalah tempat paling tepat untuk bermunajat meminta segala sesuatu hal kepada pemilikinya. Seusai shalat subuh berjamaah dengan jamaah lain yang mayoritasnya laki-laki (karena jarang sekali perempuan shalat di mesjid) aku tidak langsung bergegas pulang, aku bersantai terlebih dahulu dengan membaca al-quran... terasa tentram hati ini setelah mengucapkan dan meresapi setiap kalam illahi. 

Seusai membenarkan dan merapikan mukena dan peralatan shalat yang lainnya aku baru beranjak pulang dan ini sudah lebih siang, matahari sudah mulai menampakkan wajahnya, deru suara kendaraan sudah mulai berlalu lalang, kaki-kaki mungil itu berlari kesana kemari untuk berangkat sekolah. Aku bahagia melihat semuanya ku syukuri semua nikmat yang engkau berikan kepadaku, beberapa toko sudah mulai dibuka oleh si empunya. Sampai akhirnya perhatianku teralihkan oleh sepasang mata yang kurasa sudah lama memperhatikanku. Aku tidak mengenalinya, wajahnya ia tutupi dengan kerudung hitamnya yang menjuntai sampai hampir menutupi sebagian tubuhnya, aku tidak bersuudzon mungkin dia hanya seorang pengemis yang kebetulan saja berpapasan denganku namanya juga di jalan pasti banyak berbagai orang dengan berbagai profesi termasuk mengemis apalagi ini di bulan ramadhan banyak orang yang memanfaatkan bulan suci ini dengan mengemis padahal mereka pada intinya banyak yang mampu bekerja lain selain menjadi pengemis dan masih bertubuh sehat untuk mencari nafkah yang lebih baik.

Sesaat setelah melewati perempuan tadi aku masih penasaran, ku tengok kembali sosoknya yang kini ada di belakangku, aku mencoba membalikkan badanku hanya untuk sekedar melihatnya dan ternyata subhanallah ia bukan seorang pengemis, melainkan hanya seorang pemungut sampah, aku lihat dia menggendong bak sampah di punggungnya, dia terlihat sangat ringkih sekali dan sepertinya dia sangat kelelahan hingga aku lihat dia berhenti di depan sebuah toko yang masih tutup dan menjajakkan bak sampah yang dia gendong di punggungnya sedaritadi, tidak hanya di kejutkan dengan bak sampah yang dia gendong, mataku semakin terbelalak kembali saat dia merogoh baksampah yang tingginya kira-kira hampir separuh dari badannya yang kecil, seorang bayi mungil dia keluarkan dari dalam bak sampah tersebut, bukan hanya terbelalak melihat kuasa tuhan yang satu ini aku hampir menitikan air mata tapi masih tetap ku tahan.

Aku menghampirinya hanya untuk bertegur sapa atau bahkan untuk mengajaknya mampir sebentar ke tokoku di ujung jalan ini aku merasa iba melihat bayi mungil yang sangat kucel  itu harus tidur di dalam bak sampah. Saat ku hampiri, si ibunya bayi menatapku tajam dan penuh dengan rasa takut, “Iassalamualaikum, bu saya boleh duduk disini?”, dia tidak menjawab salamku, dia hanya memperhatikanku saja dari ujung kerudung sampai dengan unjung sandalku. Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan si ibunya bayi, tapi dia tetap bungkam dan menundukkan kepalanya yang nyaris tak bisa ku tatap matanya, hampir sepuluh menit aku berpura-pura hanya duduk disana dan dia tetap tidak berbicara sepatah katapun. Sampai akhirnya aku putuskan untuk bergegas pulang dan meninggalkan beberapa lembar uang untuknya.

Saat aku bernjak pergi meninggalkan dia yang tak mau berbicara dan bayinya yang tak kudengar menangis di pelukkannya, baru beberapa langkah aku meninggalkannya, aku  mendengar ada orang yang memanggil namaku, “RI...” samar - samar ku dengar benar ada yang memanggilku, ku edarkan pandangan ke sekelilingku mencari sumber suara yang memanggil namaku, hasilnya tak ku temukan, semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ku lanjutkan perjalananku beberapa langkah dari tempatku terdiam tadi, kemudian ku dengar ada yang memanggilku kembali, kali ini sangat jelas dia memanggil namaku dengan lengkap “YUSRI !!!!”, ku cari sumber suara tadi, saat membalikkan badan betapa terkejutnya aku dengan sosok yang sudah ada tepat di belakangku kali ini, perempuan tadi, perempuan pengemis tadi, dia mengetahui namaku? Aku menatapnya heran, tetapi dia terus memanggil namaku “kamu yusri kan?” tanyanya padaku yang masih terpaku menatapnya, kali ini dia bicara padaku.

“iya, saya yusri” ku jawab pertanyaannya masih dengan nada yang teramat heran, ku tatap wajahnya pekat-pekat barangkali aku mengenalinya.
“kamu tidak mengenaliku?” pertanyaan selanjutnya yang dia lontarkan dengan logatnya yang khas, aku masih berfikir siapa orang ini yang mengetahui namaku. Aku masih terdiam tak menjawab, aku hanya memerhatikannya saja, barangkali aku ingat. “aku bina ri, sabriana teman SMP–mu dulu waktu di bengkulu. Aku mencoba mengingatnya kembali, ah ya, aku dulu pernah mempunyai teman yang sangat dekat sewaktu aku di kampung. Tetapi temanku sabriana tidak berkerudung dan sangat cantik, bisa dibilang dia adalah kembang desa. Sabriana yang sekarang berada dihadapanku, Kulitnya lebih gelap dariku, sudah ada sedikit keriput dibagian matanya yang tajam, wajah yang kusam karna mungkin dia sulit hanya untuk sekedar untuk membersihkan wajahnya. 
“hai... sabriana, aku hampir tak mengenalimu” kupeluk dia dengan penuh rasa tak percaya, dan bahagia.

“waah, kamu sukses ya sekarang ri, kuliah dimana?” kali ini dia benar-benar mau berbicara denganku.

“aku kuliah di daerah sini, kebetulan baru pulang dari mesjid depan sana, sini kita duduk” aku mengajaknya duduk di kursi depan sebuah toko. “anakmu tak menangis kau tinggalkan begitu saja di sana?”.

Dia menundukkan wajahnya kembali, apa aku salah?, aku menatapnya dengan penuh pertanyaan, “kenapa na? Kau bawa saja anakmu disini, kasihan kalau di tinggalkan begitu saja disana sendirian”, tak lama sabriana membawa bayinya kehadapanku. Dan astagfirullah ini bukan bayi, tapi ini jasad bayi. Aku tekejut saat melihatnya lebih dekat.
“dia kenapa na?” kulontarkan pertanyaan yang spontan saat melihat bayinya yang sudah terbujur kaku.

“dia sudah meninggal ri, beberapa hari yang lalu” dengan isak tangis yang membuncah sambil menggendong bayi yang kini sudah tidak bernyawa lagi.

“kenapa tidak di makamkan ?kasihan na bayimu”

“aku bahkan tidak punya biaya untuk sekedar memakamkan jasad anakku ini ri,” kali ini tangisnya benar-benar pecah, aku merangkulnya dengan sebelah tanganku, tak terasa titik-titik air yang hangat membanjiri pipiku.

“kita sekarang bawa bayimu ke rumahku yu, kita makamkan disana, bagaimana?” ajakku kepada sabriana.

“makasih ri, aku hanya merepotkanmu saja”

“kita kan saudara, aku tidak sedikitpun merasa di repotkan olehmu”.

Akhirnya bayi sabriana bisa di makamkan dengan proses yang benar dan dengan di bantu oleh warga sekitar rumahku. 

Malamnya seusai tahlilan, aku menemui bina begitu biasa dia kupanggil, di kamarku sambil membawa beberapa makanan, karena dari semenjak buka puasa tadi, dia belum memakan apapun dan hanya membatalkannya dengan minum air putih saja. Kulihat dia sedang terduduk di atas kasur sambil menatap kosong. 

“na, kamu makan dulu ya”. Tidak ada respon, dia hanya diam membungkam mulutnya.
“aku tinggalkan kamu sendiri disini ya na, aku keluar dulu menemui tamu, kamu makan ya na, kasihan tubuhmu membutuhkan banyak tenaga”. Sabriana masih tak mau mengeluarkan suaranya. 

Aku tau kamu sangat terpukul dengan kepergian anakmu na, tapi ini sudah takdir yang allah berikan kepadamu sebagai ujian kepada hambanya yang dirasa mampu untuk melewatinya, aku yakin kamu kuat menjalani semuanya. Allah sayang kepada dirimu hingga buah hatimu ia jemput kembali.

“ri,,,  makasih kamu sudah membantuku”. Dia kini mau berbicara.

“kamu jangan bilang makasih na, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai saudara seimanmu.” “kamu bisa bercerita apapun padaku, kalau kamu mau”.

“aku malu ri,,, aku malu hanya bisa merepotkanmu saja”.

“na,,, aku tidak merasa direpotkan.” Suaraku hampir tercekat karena ingin menangis. Tapi aku masih bisa menahan agar airmataku tak jatuh di hadapan sabriana yang sedang berduka.

“semua ini karna bang teguh na, laki-laki tak bertanggung jawab itu membuat hidupku hancur sampai aku kehilangan segalanya”. Tangis bina mulai membuncah kembali.

“tenang na,, kamu bisa ceritakan semuanya padaku kalau itu bisa membuat ringan bebanmu pikiranmu”. setahuku teguh adalah pacarnya semenjak SMP, aku tidak terlalu begitu mengenal teguh.

“boleh aku tannya na? Teguh itu teman kita sewaktu di SMP?”. Aku sangat berhati-hati melontarkan pertnyaan ini karena takut menyinggung perasaannya. Dan, bina pun menceritakan semuanya.

“iya ri, teguh pacar ku sewaktu kita SMP dulu, aku masih tetap berpacaran dengannya, sampai kita lulus SMP, aku  meneruskan SMA tapi tidak tamat hanya sampai kelas 2 saja karena aku hamil di luar nikah oleh teguh, kami di niakahkan, aku malu, aku merasa banyak dosa ri,,, teguh memang menikahiku secara agama dan secara hukum, bahkan pernikahan kami sangat meriah di kampung, karena ibuku malu bila tidak di meriahkan, katanya anak pertama masa tidak meriah. Aku malu na, tapi ibuku tetap ingin meayakan pernikahanku. Usai pernikahan aku dan teguh pindah ke padang, agar aku bisa menutupi kehamilanku, aku pikir dengan jauh dari kampung aku akan hidup bahagia dengan teguh, tapi ternyata teguh memutuskan untuk menjadi TKI ke arab saudi agar kebutuhan ekonomi kami tercukupi, begitu kata teguh. Sebenarnya aku tidak mengizinkan teguh untuk pergi jauh dariku dan dari anak yang sedang aku kandung, tapi katanya ini untuk bayi kita juga, agar anak kita bisa lahir di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang besar. Akhirnya dengan berat hati aku mengizinkan teguh untuk pergi mencari nafkah nun jauh di tanah arab sana. Tapi, sampai anak kami lahir dia tak kunjung datang bahkan 2 tahun dia tak pulang dan tak memberi kabar, aku kehilangan kontak suamiku ri,,, aku mencrari tahu kesana kemari sambil aku berjualan kue di pasar titipan orang lain yang hasilnya tak seberapa, hanya bisa menutupi untuk makan sehari-hari saja, sedangkan uang kontrakan aku harus menjadi buruh cuci setrika disana sini, anak ku yang masih kecil tak bisa ku tinggalkan sendiri, aku menggendongnya kesana kemari, kasihan dia masih kecil ri,,, bahkan hanya untuk memberikan ASIi saja aku tak bisa, ASI ku tak keuar karena aku terlalu sibuk bekerja dan kelahan. Sampai suatu hari ada tetangga di padang yang memberi kabar kalau dia bertemu teguh di bandung dan sudah beristri lagi, kata tetanggaku dia bertemu dengan teguh saat dia sedang ditugaskan bekerja disana. dengan uang seadanya aku bertekad pergi ke bandung, numpang sana-sini sampai akhirnya aku sampai dibandung, tak kuhitung berapa lama perjalanan dari padang ke bandung karena tujuanku hanya ingin bertemu teguh, keluarga yang bisa ku andalkan hanya teguh, aku tak bisa pulang ke bengkulu karna ibu sudah tak menerima aku lagi, semua tetangga mencibirku karena aku hamil diluar nikah, cibiran itu terus ibuku telan sendiri sampai disaat terakhirnya pun aku tak bisa menemuinya bahkan hanya untuk berkunjung ke makamnya pun aku tak bisa ri...  aku mencari hampir kesemua penjuru bandung tapi tak kutemui sosok teguh, aku terdampar di bandung yang tak tau arah jalan untuk kemana, sampai akhirnya anakku meninggal...”

Kali ini bukan sabriana yang menangis tetapi airmataku yang sudah tak bisa ku bendung lagi, sontak aku memeluk bina.

subhanallah na,,, Allah sangat sayang padamu sampai ia memberi cobaan yang begitu besar,,,, dan allah yakin kamu mampu melewati semuanya, kamu sekarang tidak sendiri na,,, ada aku... aku saudara kamu... kamu boleh tinggal disini semaumu, aku senang kau ada disini, membuka lembaran baru, mendokan anakmu dan ibumu, kita berjuang sama-sama”

Sabriana membalas pelukanku, dia memang orang yang tegar dan kuat, dia adalah sosok orang yang bisa bangkit walaupun di tempa terus-menurus oleh ujianmu ya allah, berikan dia setitik kebahagiaan di atas kekhilafannya di masalalu. Hamba tahu engkau maha pengampun, maka kali ini sudah cukup ujianmu untuknya, engkau adalah maha pengasih dan penyayang terhadap umatnya, dia tak pernah kering memohon ampunanmu atas setiap kesalahannya, maka ampunilah, berikan kahidupan yang bahagia dan masa depan yang menjadikannya pribadi yang lebih baik agar dia bisa menjadi hambamu yang sangat taat.  –the end-

Kamis, 25 Juni 2015

perintah ke 1000


PERINTAH KE 1000

Oleh: yusri nafisah k

Manusia itu datang lagi... kali ini dia membawa monyetnya. Entah harus bahagia atau kecewa yang pasti saat ini aku hanya ingin memeluknya dan menjambak rambutnya sampai dia kesakitan, dia harus merasakan betapa sakit di tinggalkan selama bertahun-tahun tanpa kabar. Tepatnya 3 tahun dia menghilang tanpa kabar dan kali ini dia datang lagi dengan membawa monyet. Manusia itu bernama tino dan monyetnya yang dia perkenalkan padaku bernama kia, aku memanggilnya monyet karena aku tidak terlalu suka dia selalu berada di sekeliling tino, dia terlalu agresif untuk tino, dan aku belum mendapatkan penjelasan yang masuk akal mengapa tino betah berada disisi si monyet itu. Tino itu sahabatku, kita bersahabat cukup lama mungkin karena orangtua kita juga memang bersahabat dan kita ada di lingkungan yang sama, aku tau segala hal tentang tino bahkan dari apa yang tino tau, dan aku tidak yakin kalo si monyet itu tahu lebih banyak dari yang aku tahu tentang tino.

tino pernah bilang kalo persahabatan kita akan abadi selamanya, tapi aku kurang suka dengan pernyataannya itu, aku tidak ingin bersahabat lebih lama dengan dia, aku bisa lebih baik dari sekedar seorang sahabat. 

Hari ini aku mengajak tino ke tempat yang kita suka yaitu pasar malam, kita berdua selalu senang dan melupakan segala hal jika sudah menemukan pasar malam di dekat rumah. Makan arumanis dan sosis besar sambil menaiki bianglala, meskipun tino tidak pernah suka naik bianglala karena menurutnya bianglala lambat dan sempit. atau terkadang kita uji adrenalin dengan memasuki rumah hantu yang tino sangat suka dan aku selalu dibuat nangis olehnya karena dipaksa. Kali ini “kencan” kita tidak terlalu berjalan lancar karena tino membawa kia dan dia terlalu manja. Kali ini aku juga tidak hanya benci kia tapi juga tino. Dia gak asik.
Beberapa hari keberadaan kia di antara aku dan tino sungguh membuat aku tidak mengenal tino seperti dulu. Mungkin sekarang kia lebih mengenal tino daripada aku, dan sekarang aku yang menjadi monyet diantara mereka. Aku tidak terlalu suka dengan keadaan seperti ini. Seolah-olah seluruh kehidupanku,duniaku terjungkir dan tak akan pernah kembali.

Beberapa hal kali ini aku lakukan sendiri, bahkan mengisi dipy pun aku lakukan sendiri, dipy adalah dairy antara aku dan tino, jika kita sedang merasa buruk dipy-lah yang menjadi hati kita dan menjadi mulut agar kita saling berbicara dan segera berbaikan. Tapi sekarang dia benar-benar tidak hanya melupakan aku tapi juga melupakan dipy, beberapa hari yang lalu aku meletakkan dipy di kotak surat didepan rumahnya, sampai saat ini dipy masih saja disana dan tidak berubah posisinya sedikitpun.

Tino memang keterlaluan!!! tapi aku tidak bisa marah padanya secara langsung, aku terlalu takut kalau tino terlalu jauh dari pandanganku jika aku marah secara langsung. Meskipun kini tino ada disini, dirumahnya lagi setelah 3 tahun menghilang tapi aku merasa tino masih belum kembali. Aku rindu tino yang dulu, yang selalu ada disampingku jika aku memerlukannya, yang selalu menungguku saat kita berangkat sekolah, yang selalu mencicipi kue buatanku dan bilang kue buatanku paling enak padahal aku tau kalau kue buatanku memang buruk, tapi itulah tino, dia selalu membuatku bahagia, dia tidak pernah membuatku merasa paling sendiri di dunia ini. Bahkan saat dia menghilang tanpa kabar, dia tidak membuatku sendiri dia memberikan aku teman pengganti yaitu setoples perintah yang harus aku lakukan disaat dia tidak ada disampingku. Dia itu unik dan aku suka, hanya dia mau menemaniku nonton konser padahal aku tahu sekali dia tidak suka nonton konser, tino itu terlalu sempurna untuk duniaku.

Bertahun-tahun kita bersahabat, aku merasa bahwa aku sudah diluar batas merasa memilikinya, pada akhirnya aku harus merelakan dia bahagia dengan yang lain tidak dengan aku, tidak dengan duniaku lagi, tidak dengan semua kebiasaanku, dan tidak dengan aku.

Semuanya sudah aku ungkapkan pada dipy, bahwa aku tidak pernah bisa melepas tino, aku terlalu sayang padanya sampai tercekat semua kata-kata yang ingin aku ungkupakan padanya, tapi jangankan dia membacanya, pada dipy saja mungkin dia sudah lupa. Aku rasa ini bukan sekedar sahabat, rasa ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya, aku tak bisa terlalu lama ditinggalkan olehnya, dan aku mulai tak sanggup melihat senyumnya yang dia berikan kepada wanita lain. 

Sore ini lembayung senja tampak indah, entah karena gara-gara tadi siang hujan hingga menciptakan senja yang indah atau karena memang senja sedang bahagia karena akhirnya ia bisa muncul dan menyambut datangnya malam, yang aku tahu senja selalu tersenyum indah menyambut datangnya malam, mereka hidup dalam tempat yang sama meskipun mereka tak pernah saling bertemu, senja tahu ia tidak lebih indah dari bulan atau bintang yang selalu setia berada disisi sang malam yang dingin, yang ia hanya bisa lakukan hanya tersenyum dengan indah pada saat akan menyambut malam. 

Aku mengambil dipy yang sudah hampir satu minggu diam di kotak pos rumahnya tino, tanpa di sentuh tuannya. Aku membuka dipy dan benar saja bahwa dipy memang tidak pernah bertemu dengan tino, karena di lebar selanjutnya tidak ada tulisan balasan dari tino seperti biasanya. Aku meletakkan dipy begitu saja dan merebahkan badan sejenak di atas kasur. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal penglihatanku, ada yang berbeda dari dipy di bagian paling akhir lembaran dipy ada secarik kertas yang membuatku penasaran, tulisan dari secarik kertas itu adalah “buka perintah biru no 1000”. Tino benar-benar membalasnya, aku senang bukan main tapi apa maksud dari tulisan diatas secarik kertas tadi ya?. Aku tidak bisa memecahkan apa isi tekateki di kertas balasan tino. Semalaman aku berfikir keras tentang tekateki itu “ah,,mungkin tino hanya akan mengerjaiku saja”.

Pagi ini aku bangun dengan sedikit rasa penasaran yang masih menghantui, penasaran dengan maksud dari “perintah biru no 1000”, aku membuka jendela dan mencoba menghirup udara segar dipagi hari dan merasakan riangnya dedaunan yang tertimpa embun, mendengarkan kicauan burung yang riang di atas pohon seolah mereka tidak akan kehabisan suara untuk bersiul indah, langit pagi itu biru dan tidak mau kalah dengan indahnya suara burung dan keceriaan daun bersama embunnya. Biru !!! ya biru aku ingat sekarang dengan apa dari arti “perintah biru no 1000”, perintah toples yang tino berikan padaku. Aku mencoba mengambil toples itu yang masih berisi hampir setengahnya dari yang pertama tino berikan dan aku mencari no 1000, aku membukanya perlahan dan aku membaca setiap huruf yang tertulis di kertas perintah biru no 1000 itu, aku tidak ingin keliru membacanya, aku ulangi beberapa kali untuk membacanya. Setelah membaca isi dari perintah itu aku bergegas mencari tino kerumahnya, dan aku memasuki kamar tino, aku menemukan tino masih tidur, dan aku terkejut melihat apa yang memenuhi dinding kamarnya, itu adalah kertas-kertas perintah yang berada di dalam toples yang selalu aku buang jika sudah aku kerjakan dan yang membuat aku semakin terkejut adalah potongan-potongan kertas itu membentuk seulas senyum, ya, potongan kertas itu membentuk wajahku. Tak terasa tetesan air hangat mengalir dipipiku sampai-sampai membangunkan tino dari tidurnya. Aku tidak ingin memperlihatkan wajah sembabku dihadapan tino, aku terus membelakanginya dan tak menoleh sedikitpun meskipun dia memanggilku beberapa kali, aku tak bisa berkata apa-apa dan yang bisa aku lakukan saat ini hanya diam dan merasakan titik-titik air hangat yang keluar dari mata terus mengalir di pipiku tanpa bisa ku bendung, tino memelukku dan mengatakan kata-kata ajaibnya yang membuat tangisku lebih pecah di pelukkannya, “cinta ini ada, masih seperti dulu saat kita bersama sebagai sahabat kecil, cinta ini masih ada bahkan saat kita tidak ada dalam hari yang sama dan tempat yang sama, cinta ini selalu ada bahkan saat kamu berfikir kita tidak bisa bersama, meskipun aku harus menunggunya lebih dari seribu hari”.

Dan isi dari perintah biru ke 1000 itu adalah “cintai aku, sekarang juga!”.
~Selesai~

kala hujan membanya pergi


Kala hujan membawanya pergi
Oleh: Yusri Nafisah
Kali ini bel sekolahku berbunyi lebih cepat 5 menit dari biasanya, ini adalah untuk yang kedua kalinya aku pindah sekolah dari sekolahku yang lama. Sekolahku kali ini nampak berbeda dengan sekolahku yang dulu, sekolahku kali ini berada di lingkungan pedesaan yang indah dan asri, kehidupanku secara otomatis berubah drastis dari sebelumnya. Kali ini aku tinggal bersama nenek yang tinggal di perkampungan di daerah bandung, aku di pindahkan karna menurut orangtuaku aku menjadi orang yang seketika sulit untuk bersosialisasi dan lebih senang mengurung diri di dalam kamar.
Ini adalah hari pertamaku masuk di sekolah baru, pagi itu aku sedikit terlambat karna perkampungan yang di guyur hujan semalam menyisakan titik-titik gerimis di pagi hari yang membuatku sedikit malas untuk pergi ke sekolah.
Seperti halnya murid baru yang lainnya aku masih merasa sangat canggung, jujur saja ini adalah awal yang membuatku merasa semakin jenuh, dengan gerimis di luar jendela kelas, hampir seharian aku tak memperhatikan pelajaran hari itu, aku sibuk dengan semua lamunan dan kekesalanku yang masih menuntut mengapa aku harus dipindahkan ke pedesaan yang sangat terpencil.
Sepulang sekolah, aku tak ingin berlama-lama berada disekolah. Kusegerakan kakiku melangkah untuk pulang, tiba-tiba kakiku terhenti di depan pintu gerbang utama sekolah dan tak meneruskan langkahku, aku tak suka sekujur tubuhku terguyur hujan yang membosankan ini tapi, apadaya hujan sudah dengan seketika membuatku tak bisa menghindarinya.
Dengan gontai ku langkahkan kakiku untuk meneruskan perjalanan pulang, aku terkejut ketika tiba-tiba ada payung berwarna kuning yang melindungiku dari guyuran hujan. Dengan santai si pemilik payung itu menyerahkannya padaku, seketika aku menghindar dari si pemilik payung itu dengan wajah yang penuh pertanyaan, tapi ia terus mengikuti langkahku dan selalu membuatku menjadi terlindungi oleh payungnya tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya ataupun dari mulutku, kami diam membisu sampai di depan rumah. Tanpa ku hiraukan aku masuk kedalam rumah dan menutup pintu.
^^^
Pagi ini mentari menyambut dengan hangat membuat embun di atas daun berkilau seperti permata dengan indahnya. Aku mulai terbiasa dengan suasana pedesaan yang sangat akrab dengan udara yang segar, aku memasuki kelas dengan semangat karna hari ini hujan tak menyembunyikan keindahan alam yang hijau dan kicauan burung yang terdengar riang di balik jendela kelas. Kusibakkan kaca jendela sehingga mentari dapat menebarkan cahaya hangatnya kesetiap sudut ruang kelas, entah mengapa hari ini suasana hatiku terasa nyaman padahal hari itu adalah hari yang paling menyebalkan bagi sebagian murid karena pelajaran matematika dan disambung dengan pelajaran fisika yang tak kunjung usai. 
Bel istirahatpun berbunyi...
Sorak semua murid membubarkan diri dan menyerbu kantin yang seketika berubah menjadi antrian padat seperti pasar induk. Aku duduk di kantin dengan ditemani segelas es jeruk, tiba-tiba pandanganku beralih pada sosok pria yang sedang duduk menyendiri di bawah pohon rindang di taman sekolah dengan buku yang menutupi sebagian wajahnya dan payung kuning yang terlipat rapi di pinggirnya, dia adalah Razi pria yang terkenal lebih senang menyendiri tapi memiliki banyak fans di kalangan murid wanita karena ketampanan dan kepintarannya, dia juga sama sepertiku seorang murid pindahan, tetapi ia lebih awal satu minggu dariku . Kuhampiri pria itu dengan membawa teh botol dan memberikan kepadanya.
Ku coba mengambil payung yang terlipat rapi itu untuk sekedar memastikan apakah payung itu sama dengan payung yang kemarin mengantarkanku pulang, belum juga aku sempat memastikannya, tiba-tiba tangan si pemilik payung itu menggenggamnya dengan cukup kuat.
“Kenapa tidur disini? kan panas?” seketika terlontar kata-kata itu dari mulutku sambil melonggarkan peganganku pada payung itu dan membuat pria itu terbangun.
 “Disini lebih nyaman,” jawabnya dengan singkat
“Emmm... makasih buat kemarin, ini sebagai tanda terimakasihku karna kamu telah mengantarkanku pulang tanpa ku minta.n” ucapku sambil beranjak pergi. Belum sempat aku menginggalkannya tiba-tiba tangannya menahanku dan membuatku terduduk kembali di sampingnya,
“ Kamu tuh orang teraneh yang pernah aku temui, kemarin terlihat murung dan jutek, dan sekarang terlihat sangat baik” ucapnya yang membuatku sedikit tertegun, tak ada kata yang dapat terlontar dari mulutku dan aku hanya terdiam.
Sejak saat itu aku dan Razi berteman, entah apa yang membuat kami menjadi sepasang teman dan membuat aku tak merasa kesal karna selalu di ikuti olehnya. Menurutku dia adalah orang pertama yang mau berbicara denganku disekolah.
Hampir satu bulan aku berteman dengannya, kami memiliki kebiasaan yang sangat berbeda, aku suka menulis dairy dan dia lebih suka menghafal perkalian secara mundur di selah waktunya.
^^^
Hari ini adalah hari yang spesial bagi seluruh murid SMA Budi Bakti, karna hari ini ada pentas seni di sekolah dimana seluruh murid yang memiliki bakat di bidang menyanyi akan menunjukkan keahliannya di depan seluruh siswa dari kelas 1 sampai kelas 3, aku dan Razi mengikuti jalannya acara sampai sore. Tiba-tiba hujan turun dan membuat semua siswa yang berada dilapangan menyembur memburu ruangan untuk melindungi diri mereka agar tak basah kuyup, aku pun sama seperti halnya siswa lain berlari mencari tempat yang dapat melindungiku dari guyuran hujan,
“Lagi-lagi hujan” gumamku dengan sedikit kesal.
Terdengar suara petikan gitar dari atas panggung di tengah guyuran hujan yang membuat suasana menjadi romantis,
“ Puisi ini aku persembahkan untuk vera, seseorang yang spesial bagiku”, sontak aku kaget mendengar namaku di sebut- sebut di atas panggung dengan pengeras suara. Tak ku sanggka Razi membawakan sebuah puisi romantis yang mewakili perasaannya saat itu padaku.
Tuhan...
Apa ini cinta ???
mengapa aku selalu memikirkannya ???
Ada apa dengan perasaan ini ???
Sudah sekian lama, jantung ini tak berdetak dengan kencang...
Seketika, aliran darahku terasa terhenti bila memikirkannya...
Kebersamaanku dengannya hanya terhitung sesaat..
Tapi mengapa ??
Mengapa seperti ini akhirnya??
Atau mungkin kali ini...
Aku benar –benar telah jatuh cinta padanya??
Aku hanya takut...
Aku takut mengakui keberadaan perasaan ini padanya...
Aku takut bila ia tak merasakan hal yang sama denganku..
Mungkin aku memang tak sebanding dengannya..
Dan Mungkin aku hanya sebatas mengaguminya..
Mengagumi sosok yang kini mulai ku cintai....
Aku hanya bisa tertegun mendengarkan petikan gitar acoustic dan pernyataan cinta yang disampaikan dalam balutan puisi yang dimainkannya, titik-titik air itu kini tidak hanya di langit, tapi sudah mulai merembet membanjiri pipiku. Aku berlari meninggalkan sekolah dan tak ku hiraukan suara riuh dari teman-teman yang lain yang memuji permainan gitar Razi dan memuji betapa beruntungnya aku mendapatkan perlakuan spesial dari seorang Razi.
Razi mengejarku tetapi aku tak menghiraukannya, aku terus berlari di bawah guyuran hujan yang sangat aku benci.
“Kenapa harus Razi?? Kenapa dia menyatakan cinta padaku disaat hujan? Hujan adalah moment yang paling aku benci” aku berteriak di tengah hujan sampai aku kehilangan arah dan terduduk.
Tiba-tiba payung kuning itu lagi-lagi melindungiku dari guyuran hujan.
“Aku tau kenapa kamu sangat benci hujan” suara yang sangat aku kenal membuat airmataku semakin tak tertahankan, “aku tahu semua yang kamu alami dari buku dairy ini” razi menyerahkan buku dairy milikku dan membuat aku menatap ke arahnya, “kamu bilang kamu benci dengan hujan, karna hujan telah merenggut dia dihari saat dia menyatakan cinta padamu, hujan telah merenggut dia karna itu adalah awal dari kebahagiaanmu dengannya, tapi itu semua adalah takdir ve, itu takdir dari tuhan yang sudah di gariskan untuknya, kamu tidak bisa selamanya membenci hujan karna dia” ucap razi menyadarkanku betapa bodohnya aku terkungkung oleh masalalu. aku berdiri menatap razi dengan airmata yang masih membasahi pipiku, seketika aku memegang payung kuning itu dengan erat
“ Mulai saat ini aku akan menyukai hujan karnamu”.
The end