SABRIANA....
Tadi pagi
seusai santap sahur, aku bergegas mengambil air wudhu untuk selanjutnya
bermunajat kepada Allah. Entah mengapa hari ini aku ingin sekali solat subuh
berjamaah di mesjid depan gang rumahku, selain memang sepi aku rasa mesjid
adalah tempat paling tepat untuk bermunajat meminta segala sesuatu hal kepada
pemilikinya. Seusai shalat subuh berjamaah dengan jamaah lain yang mayoritasnya
laki-laki (karena jarang sekali perempuan shalat di mesjid) aku tidak langsung
bergegas pulang, aku bersantai terlebih dahulu dengan membaca al-quran...
terasa tentram hati ini setelah mengucapkan dan meresapi setiap kalam illahi.
Seusai
membenarkan dan merapikan mukena dan peralatan shalat yang lainnya aku baru
beranjak pulang dan ini sudah lebih siang, matahari sudah mulai menampakkan wajahnya,
deru suara kendaraan sudah mulai berlalu lalang, kaki-kaki mungil itu berlari
kesana kemari untuk berangkat sekolah. Aku bahagia melihat semuanya ku syukuri
semua nikmat yang engkau berikan kepadaku, beberapa toko sudah mulai dibuka
oleh si empunya. Sampai akhirnya perhatianku teralihkan oleh sepasang mata yang
kurasa sudah lama memperhatikanku. Aku tidak mengenalinya, wajahnya ia tutupi
dengan kerudung hitamnya yang menjuntai sampai hampir menutupi sebagian
tubuhnya, aku tidak bersuudzon mungkin dia hanya seorang pengemis yang
kebetulan saja berpapasan denganku namanya juga di jalan pasti banyak berbagai
orang dengan berbagai profesi termasuk mengemis apalagi ini di bulan ramadhan
banyak orang yang memanfaatkan bulan suci ini dengan mengemis padahal mereka
pada intinya banyak yang mampu bekerja lain selain menjadi pengemis dan masih
bertubuh sehat untuk mencari nafkah yang lebih baik.
Sesaat
setelah melewati perempuan tadi aku masih penasaran, ku tengok kembali sosoknya
yang kini ada di belakangku, aku mencoba membalikkan badanku hanya untuk
sekedar melihatnya dan ternyata subhanallah
ia bukan seorang pengemis, melainkan hanya seorang pemungut sampah, aku lihat
dia menggendong bak sampah di punggungnya, dia terlihat sangat ringkih sekali
dan sepertinya dia sangat kelelahan hingga aku lihat dia berhenti di depan
sebuah toko yang masih tutup dan menjajakkan bak sampah yang dia gendong di
punggungnya sedaritadi, tidak hanya di kejutkan dengan bak sampah yang dia
gendong, mataku semakin terbelalak kembali saat dia merogoh baksampah yang
tingginya kira-kira hampir separuh dari badannya yang kecil, seorang bayi
mungil dia keluarkan dari dalam bak sampah tersebut, bukan hanya terbelalak
melihat kuasa tuhan yang satu ini aku hampir menitikan air mata tapi masih tetap
ku tahan.
Aku
menghampirinya hanya untuk bertegur sapa atau bahkan untuk mengajaknya mampir
sebentar ke tokoku di ujung jalan ini aku merasa iba melihat bayi mungil yang
sangat kucel itu harus tidur di dalam bak sampah. Saat ku
hampiri, si ibunya bayi menatapku tajam dan penuh dengan rasa takut, “Iassalamualaikum, bu saya boleh duduk
disini?”, dia tidak menjawab salamku, dia hanya memperhatikanku saja dari ujung
kerudung sampai dengan unjung sandalku. Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan
si ibunya bayi, tapi dia tetap bungkam dan menundukkan kepalanya yang nyaris
tak bisa ku tatap matanya, hampir sepuluh menit aku berpura-pura hanya duduk disana dan dia tetap tidak berbicara sepatah katapun. Sampai akhirnya aku
putuskan untuk bergegas pulang dan meninggalkan beberapa lembar uang untuknya.
Saat aku
bernjak pergi meninggalkan dia yang tak mau berbicara dan bayinya yang tak
kudengar menangis di pelukkannya, baru beberapa langkah aku meninggalkannya,
aku mendengar ada orang yang memanggil
namaku, “RI...” samar - samar ku dengar benar ada yang memanggilku, ku edarkan
pandangan ke sekelilingku mencari sumber suara yang memanggil namaku, hasilnya
tak ku temukan, semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ku
lanjutkan perjalananku beberapa langkah dari tempatku terdiam tadi, kemudian ku
dengar ada yang memanggilku kembali, kali ini sangat jelas dia memanggil namaku
dengan lengkap “YUSRI !!!!”, ku cari sumber suara tadi, saat membalikkan badan
betapa terkejutnya aku dengan sosok yang sudah ada tepat di belakangku kali
ini, perempuan tadi, perempuan pengemis tadi, dia mengetahui namaku? Aku
menatapnya heran, tetapi dia terus memanggil namaku “kamu yusri kan?” tanyanya
padaku yang masih terpaku menatapnya, kali ini dia bicara padaku.
“iya,
saya yusri” ku jawab pertanyaannya masih dengan nada yang teramat heran, ku
tatap wajahnya pekat-pekat barangkali aku mengenalinya.
“kamu
tidak mengenaliku?” pertanyaan selanjutnya yang dia lontarkan dengan logatnya
yang khas, aku masih berfikir siapa orang ini yang mengetahui namaku. Aku masih
terdiam tak menjawab, aku hanya memerhatikannya saja, barangkali aku ingat.
“aku bina ri, sabriana teman SMP–mu dulu waktu di bengkulu. Aku mencoba mengingatnya
kembali, ah ya, aku dulu pernah mempunyai teman yang sangat dekat sewaktu aku
di kampung. Tetapi temanku sabriana tidak berkerudung dan sangat cantik, bisa
dibilang dia adalah kembang desa. Sabriana yang sekarang berada dihadapanku, Kulitnya
lebih gelap dariku, sudah ada sedikit keriput dibagian matanya yang tajam,
wajah yang kusam karna mungkin dia sulit hanya untuk sekedar untuk membersihkan
wajahnya.
“hai...
sabriana, aku hampir tak mengenalimu” kupeluk dia dengan penuh rasa tak
percaya, dan bahagia.
“waah,
kamu sukses ya sekarang ri, kuliah dimana?” kali ini dia benar-benar mau
berbicara denganku.
“aku
kuliah di daerah sini, kebetulan baru pulang dari mesjid depan sana, sini kita
duduk” aku mengajaknya duduk di kursi depan sebuah toko. “anakmu tak menangis
kau tinggalkan begitu saja di sana?”.
Dia
menundukkan wajahnya kembali, apa aku salah?, aku menatapnya dengan penuh
pertanyaan, “kenapa na? Kau bawa saja anakmu disini, kasihan kalau di
tinggalkan begitu saja disana sendirian”, tak lama sabriana membawa bayinya
kehadapanku. Dan astagfirullah ini
bukan bayi, tapi ini jasad bayi. Aku tekejut saat melihatnya lebih dekat.
“dia
kenapa na?” kulontarkan pertanyaan yang spontan saat melihat bayinya yang sudah
terbujur kaku.
“dia
sudah meninggal ri, beberapa hari yang lalu” dengan isak tangis yang membuncah
sambil menggendong bayi yang kini sudah tidak bernyawa lagi.
“kenapa
tidak di makamkan ?kasihan na bayimu”
“aku
bahkan tidak punya biaya untuk sekedar memakamkan jasad anakku ini ri,” kali
ini tangisnya benar-benar pecah, aku merangkulnya dengan sebelah tanganku, tak
terasa titik-titik air yang hangat membanjiri pipiku.
“kita
sekarang bawa bayimu ke rumahku yu, kita makamkan disana, bagaimana?” ajakku
kepada sabriana.
“makasih
ri, aku hanya merepotkanmu saja”
“kita kan
saudara, aku tidak sedikitpun merasa di repotkan olehmu”.
Akhirnya
bayi sabriana bisa di makamkan dengan proses yang benar dan dengan di bantu
oleh warga sekitar rumahku.
Malamnya
seusai tahlilan, aku menemui bina begitu biasa dia kupanggil, di kamarku sambil
membawa beberapa makanan, karena dari semenjak buka puasa tadi, dia belum
memakan apapun dan hanya membatalkannya dengan minum air putih saja. Kulihat
dia sedang terduduk di atas kasur sambil menatap kosong.
“na, kamu
makan dulu ya”. Tidak ada respon, dia hanya diam membungkam mulutnya.
“aku
tinggalkan kamu sendiri disini ya na, aku keluar dulu menemui tamu, kamu makan
ya na, kasihan tubuhmu membutuhkan banyak tenaga”. Sabriana masih tak mau
mengeluarkan suaranya.
Aku tau
kamu sangat terpukul dengan kepergian anakmu na, tapi ini sudah takdir yang
allah berikan kepadamu sebagai ujian kepada hambanya yang dirasa mampu untuk
melewatinya, aku yakin kamu kuat menjalani semuanya. Allah sayang kepada dirimu
hingga buah hatimu ia jemput kembali.
“ri,,, makasih kamu sudah membantuku”. Dia kini mau
berbicara.
“kamu
jangan bilang makasih na, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai saudara
seimanmu.” “kamu bisa bercerita apapun padaku, kalau kamu mau”.
“aku malu
ri,,, aku malu hanya bisa merepotkanmu saja”.
“na,,,
aku tidak merasa direpotkan.” Suaraku hampir tercekat karena ingin menangis.
Tapi aku masih bisa menahan agar airmataku tak jatuh di hadapan sabriana yang
sedang berduka.
“semua
ini karna bang teguh na, laki-laki tak bertanggung jawab itu membuat hidupku
hancur sampai aku kehilangan segalanya”. Tangis bina mulai membuncah kembali.
“tenang
na,, kamu bisa ceritakan semuanya padaku kalau itu bisa membuat ringan bebanmu
pikiranmu”. setahuku teguh adalah pacarnya semenjak SMP, aku tidak terlalu
begitu mengenal teguh.
“boleh
aku tannya na? Teguh itu teman kita sewaktu di SMP?”. Aku sangat berhati-hati
melontarkan pertnyaan ini karena takut menyinggung perasaannya. Dan, bina pun
menceritakan semuanya.
“iya ri,
teguh pacar ku sewaktu kita SMP dulu, aku masih tetap berpacaran dengannya, sampai
kita lulus SMP, aku meneruskan SMA tapi
tidak tamat hanya sampai kelas 2 saja karena aku hamil di luar nikah oleh
teguh, kami di niakahkan, aku malu, aku merasa banyak dosa ri,,, teguh memang
menikahiku secara agama dan secara hukum, bahkan pernikahan kami sangat meriah
di kampung, karena ibuku malu bila tidak di meriahkan, katanya anak pertama
masa tidak meriah. Aku malu na, tapi ibuku tetap ingin meayakan pernikahanku.
Usai pernikahan aku dan teguh pindah ke padang, agar aku bisa menutupi
kehamilanku, aku pikir dengan jauh dari kampung aku akan hidup bahagia dengan
teguh, tapi ternyata teguh memutuskan untuk menjadi TKI ke arab saudi agar kebutuhan
ekonomi kami tercukupi, begitu kata teguh. Sebenarnya aku tidak mengizinkan
teguh untuk pergi jauh dariku dan dari anak yang sedang aku kandung, tapi
katanya ini untuk bayi kita juga, agar anak kita bisa lahir di rumah sakit dan
membutuhkan biaya yang besar. Akhirnya dengan berat hati aku mengizinkan teguh
untuk pergi mencari nafkah nun jauh di tanah arab sana. Tapi, sampai anak kami
lahir dia tak kunjung datang bahkan 2 tahun dia tak pulang dan tak memberi
kabar, aku kehilangan kontak suamiku ri,,, aku mencrari tahu kesana kemari
sambil aku berjualan kue di pasar titipan orang lain yang hasilnya tak
seberapa, hanya bisa menutupi untuk makan sehari-hari saja, sedangkan uang
kontrakan aku harus menjadi buruh cuci setrika disana sini, anak ku yang masih
kecil tak bisa ku tinggalkan sendiri, aku menggendongnya kesana kemari, kasihan
dia masih kecil ri,,, bahkan hanya untuk memberikan ASIi saja aku tak bisa, ASI ku tak keuar karena aku terlalu sibuk bekerja dan kelahan. Sampai suatu hari
ada tetangga di padang yang memberi kabar kalau dia bertemu teguh di bandung dan sudah
beristri lagi, kata tetanggaku dia bertemu dengan teguh saat dia sedang
ditugaskan bekerja disana. dengan uang seadanya aku bertekad pergi ke bandung,
numpang sana-sini sampai akhirnya aku sampai dibandung, tak kuhitung berapa
lama perjalanan dari padang ke bandung karena tujuanku hanya ingin bertemu
teguh, keluarga yang bisa ku andalkan hanya teguh, aku tak bisa pulang ke
bengkulu karna ibu sudah tak menerima aku lagi, semua tetangga mencibirku
karena aku hamil diluar nikah, cibiran itu terus ibuku telan sendiri sampai
disaat terakhirnya pun aku tak bisa menemuinya bahkan hanya untuk berkunjung ke
makamnya pun aku tak bisa ri... aku
mencari hampir kesemua penjuru bandung tapi tak kutemui sosok teguh, aku
terdampar di bandung yang tak tau arah jalan untuk kemana, sampai akhirnya
anakku meninggal...”
Kali ini
bukan sabriana yang menangis tetapi airmataku yang sudah tak bisa ku bendung
lagi, sontak aku memeluk bina.
“subhanallah na,,, Allah sangat sayang
padamu sampai ia memberi cobaan yang begitu besar,,,, dan allah yakin kamu
mampu melewati semuanya, kamu sekarang tidak sendiri na,,, ada aku... aku
saudara kamu... kamu boleh tinggal disini semaumu, aku senang kau ada disini,
membuka lembaran baru, mendokan anakmu dan ibumu, kita berjuang sama-sama”
Sabriana
membalas pelukanku, dia memang orang yang tegar dan kuat, dia adalah sosok
orang yang bisa bangkit walaupun di tempa terus-menurus oleh ujianmu ya allah,
berikan dia setitik kebahagiaan di atas kekhilafannya di masalalu. Hamba tahu
engkau maha pengampun, maka kali ini sudah cukup ujianmu untuknya, engkau
adalah maha pengasih dan penyayang terhadap umatnya, dia tak pernah kering
memohon ampunanmu atas setiap kesalahannya, maka ampunilah, berikan kahidupan
yang bahagia dan masa depan yang menjadikannya pribadi yang lebih baik agar dia
bisa menjadi hambamu yang sangat taat.
–the end-