Kamis, 25 Juni 2015

sepucuk surat dari annisa


3 mei 2013
Sepucuk surat dari Nissa
Karya : yusri nafisah
Puing-puing kenangan itu kini terasa bersatu lagi. Tapi hatiku kini semakin hancur, mungkin kali ini benar-benar tak akan menyatu lagi setelah aku melihat kebersamaannya dengan wanita itu. Wanita yang cantik dengan rambut panjang terurai sampai bahu dan mengenakan gaun merah berdiri di samping seorang pangeran yang telah lama kurindukan sosoknya 5 tahun ini.
Pesta reuni SMA kali ini membuatku merasa senang sekaligus gugup tak karuan saat dia datang menghapiriku dan teman-temanku. Jujur saja aku tak bisa berkonsentrasi pada dia yang sedari tadi menatapku. Maya dan fikiranku hanya terfokus pada sosok wanita cantik itu. Wanita yang datang bersamanya di pesta itu . aku rasa wanita itu bukan alumni akatanku, dan aku hafal betul sama semua yang hadir di pesta malam itu kecuali mereka yang membawaistri atau suaminya. Istri ??? mungkinkah itu istrinya ?? wanita cantik itu istri dari rey ?? reyhan mahendra ??? sosok yang aku tunggu selama 5 tahun ini.
Semua pertanyaan itu kini menggunung di kepalaku. Belum sempat aku tanyakan semuanya pada rey. Dia sudah pamit pulang setelah mengangkat telfon sebelumnya.
Pesta reuni malam itu tidak terlalu membuatku mendapatkan kesan yang indah. Aku pulang denga diantar oleh Okan, salah satu teman osisku sewaktu SMA.
Sejak pesta reuni SMA itu. Pekerjaanku kacau, aku tak dapat menulis apapun. Fikiranku semuanya tertuju pada Rey. Fikiranku masih tentang Rey dan wanita yang datang bersamanya di pesta.
Sudah 3 hari aku tidak menulis, padahal mbak Risma dari penerbit sudah menagih terus tulisanku. Ku alihkan fikiranku dengan memutar lagu BOA yang Distrubance.... aahh... ternyata aku salah memutar lagu karna lagu itu malah semakin membuatku memikirkan Rey dan wanita itu. Ku coba alihkan fikiranku dengan menonton TV , tiba-tiba Hp ku berbunyi tanda sms masuk.
“ hai na, lagi apa ? udah lama ya kita gak ketemu, ternyata kamu makin cantik aja dengan gaun silvermu di pesta kemarin. Maaf aku tak lama menemanimu dan harus pulang mengantar Nissa.... from : reyhan “
Seketika aku tertegun melihat pesan singkat yang dikirimkan no baru itu, itu dari Reyhan. Ternyata wanita itu bernama Nissa. Nama yang cantik sama seperti orangnya. Jari-jari ku membalas sms dari Rey.
“ hai juga Rey, lagi diem aja. Dari mana kamu tau nomor aku ?”
“kau tau dari buku tamu di pesta reuni kemarin....”
“ohh.. gimana kabarmu Rey ?”
“kabarku kurang baik na, oia daripada kamu diem, gimana kalo kita jalan? Kan sekarang malem minggu”
Degggg.... hatiku terasa mendapatkan lemparan batu es mendapatkan ajakan jalan dari Rey, tak berfikir panjan aku langsung setuju dengan ajakannya.
07.30 malam...
Aku bersiap menuju cafe dekat sekolah SMA ku dulu. Cafe itu pertama kali kami bertemu, di meja no 5 saat aku tak sengaja menumpahkan kopi ke seragamnya Rey. Sedikit geli saat aku memikirkan kejadian 7 tahun lalu itu.  Saat kita sama-sama kelas 2 SMA. Kenangan itu tak akan pernah aku lupakan karena itu merupakan sejarah yang sanagt berharga bagi persahabatan aku dan Rey.
Sesampainya di cafe itu aku langsung mencari tempat duduk favoritku dan Rey, meja no 5. Ternyata meja itu kosong, dan tak banyak berubah dari setiap aksen di cafe itu.
Satu jam lebih aku menunggu Rey, tapi tak kunjung datang. Sudah kuhabiskan 2 gelas kopi untuk menunggunya. Aku coba untuk menunggunya lebih lama. Cafe hampir tutup ternyata Rey tak menunjukkan tanda-tanda kedatangannya.
Dengan rasa kecewa, kuputuskan untuk pulang dan tak menunggunya lagi. Hp ku berdering tanda sms masuk. Ternyata dari Rey.
“ na, sorry banget ya... aku gak bisa nemuin kamu sekarang, nissa tiba-tiba sakit. Kamu gak nungguin aku samapai selarut ini kan ?”
Rey memang tak sering menepati janjinya. Dan kali ini pun dia mengingkarinya lagi, dan itu karena Nissa. Mungkin Nissa lebih penting.  Dengan menahan rasa kecewaku, aku membalas smsnya.
“ya gak apa-apa Rey, aku gak nunggu kok... udah pulang daritadi. Cepet sembuh ya Nissanya....”
“thanks na, kamu emnag selalu ngertiin aku. Syukur deh kalo kamu gak nunggu, aku khawatir kamu nunggu lama”
Aku tak membalas smsnya lagi, aku tak kuasa harus terus-terusan mentolelir diriku sendiri untuk baik dan peduli padanya. Sudah cukup 5 tahun ini aku menunggunya, di tambah 2 jam saat di cafe tadi.
Belum juga mentari menampakkan diri sepenuhnya, aku sudah disibukkan dengan packing baju-bajuku kedalam koper. Hari ini aku harus pergi ke Lombok bersama tema-teman dari penerbit untuk menghadiri acara seminar editor selama satu minggu disana. Selain menulis, aku juga bekerja sebagai editor disebuah penerbit buku.
Semoga lombok bisa mengobati rasa kekecewaanku pada rey selama ini.
Aku berangkat bersama Mba Risma dan tim editor lainnya. Selama perjalanan aku tak merasa bersemangat, entah kenapa kepalaku terasa sakit, mungkin karena aku tidur terlalu larut semalam. Sepanjang perjalanan menuju lombok aku hanya memadang keluar jendela sambil sesekali mendengarkan musik dari I-pad ku.
Sampai di Lombok, aku langsung menghadiri seminar. Tak pernah ku sangka sebelumnya. Kalau ternyata Rey juga berada diruangan yang sama. Aku mencoba meyakinkan diriku bahawa itu benar-benar Rey atau hanya halusinasiku. Aku coba menyapanya, tapi kuurangkan niatku karena dia terlihat sibuk dengan kliennya.
Pandangan ku tak pernah lepas memperhatikan sosok Rey yang kini sudah banyak berubah, disela – sela kesibukkan nya tak telat terlihat dia selalu menggenggam Hp dan seperti menunggu telfon dari seseorang tapi tak pernah ada jawaban. Dan terlihat raut wajahnya yang khawatir, mungkin dia sibuk menelfon Nissa dan mengkhawatirkannya karna ia sedang sakit. Fikirku.
“ aku merasa dekat dengannya meskipun aku hanya melihatnya dan tak berada disampingnya, seolah harapan itu hadir kembali menyatukan puing – puing perasaan yang telah hancur dan menghitam secara utuh”. Itu bab terakhir tulisanku. Akhirnya novel keduaku selesai. Ternyata Lombok memang benar-benar bisa membuatku kembali normal.
Sepulang dari Lombok aku baru mengaktifkan Hp ku. Sengaja aku non aktifkan Hp selama seminggu agar pekerjaanku kelar dengan cepat. Dan tak banyak yang mengganggu. 10 panggilan masuk tak terjawab. Dari Rey. Aku coba tefon kembali Rey.
Tak lama telfonku tersambung dan aku langsung berbicara tanpa menunggu omelan panjang dari Rey.
“Rey ada apa ? sorry Hp aku baru aktif”
“ ini Shaina ? aku Nissa”
Degggg.... hatiku terasa ditimbun jutaan bongkahan Es batu mendengar suara Nissa di ujung Telfon sana.
“ iya Niss, Reyhannya ada ?”
“Rey lagi tidur, kayanya dia cape banget”
Tidur ??? apa mereka benar-benar sudah menikah?? Fikiranku langsung kacau.
“ oohh.. yaudah kalo Rey nya udah bangun tolong bilangin aku nelfon”.
Ku tutup secepat mungkin telfon itu. Tak terasa airmata sudah secepat kilat membanjiri pipiku. Ternyata Rey yang aku tunggu sudah menjadi milik orang lain. Aku tak kuasa menahan tangis. Kubiarkan air matalku benar-benar membajiri pipiku.
Semalaman menangis dan pagi pun di sambut dengan guyuran hujan. Tiba-tiba aku mendapat kabar dari okan kalau adiknya Rey meninggal. Sontak aku kaget mendengar kabar di hari yang mendung ini. Aku memang tidak terlalu mengenal keluarga Rey. Tapi aku pernah mendengar tentang adiknya Rey yang tinggal di Singapur karena sakit gagal jantung dan harus mendapatkan medis disana.
Kau menghadiri pemakaman adiknya Rey, aku tertegun ketika aku membaca nisan yang bertuliskan Anissa Mahendra binti Joko Mahendra yang sedang dipeluk oleh Rey. Tenyata Nissa yang selama ini aku sangka istri Rey, dia adalah adiknya Rey. Aku sunggu menyesal tidak mengenal lebih banyak tentang wanita cantik itu.
Usai pemakaman, aku coba berbicara dengan Rey dan mengucapkan bela sungkawa padanya. Tetapi Rey malah memberi aku sepucuk surat dari Nissa.
“ dear... Sheina.
Haii... sheina, ternyata kamu lebih cantik dari yang bayangkan. Mungkin saat kamu baca surat ini, aku sudah tidak ada di antara kamu dna kak Rey. Kamu harus tau kalau aku sudah mulai bosan dengerin cerita kak Rey tentang kamu selama 7 tahun ini, mulai saat kalian pertama bertemu di cafe dekat sekolah. Aku kesel banget sama kak Rey, waktu dia nyusulin aku ke Singapur setelah dia lulus SMA dan tenyata dia gak kasih tau kamu. Kakak aku emang bodoh uadah bikin cewe secantik kamu kesepian dan nyari tau kabar dia selama 5 tahun ini.
Tapi kamu harus tahu.. selama 5 tahun ini kak Rey gak mau kehilangan info tentang kamu.. ( *nyebelin bangetkan dia ), kak Rey utus mba Risma biar mba risma terima kamu kerja di perusahan yang sekarang, kamu tahu mba risma kan ? dia itu tante aku sekaligus korban mata-matanya kak Rey.
Waktu dia ketemu kamu di pesta reuni waktu itu, kak Rey kaya orang yang baru dapet lotre. Senyam-senyum sendiri selama perjalanan pulang. Dia juga utus Okan untuk anterin kamu karena dia khawatir sama kamu. Lagi – lagi gara-gara aku kak Rey gak bisa anter kamu pulang.
Kau juga minta maaf banget saat malem minggu waktu kalian mau bertemu, aku tiba-tiba masuk Rumah Sakit dan kak Rey gak jadi nemuin kamu. Dan kamu tau ??? kak Rey panik banget waktu dia gak bisa hubungin kamu selama seminggu. Padahal kalian sama-sama lagi di Lombok dan di tempat yang sama. Sampai-sampai pas pulang dia cerita ampe ketiduran di pinggir tempat tidur aku di Rumah Sakit.
Kak Rey emang orang yang suka telat kalo udah janji tapi dia selalu nepatin janjinya kok. Jangan pernah nyerah sama kak Rey yaa.... karena kak Rey juga gak pernah nyerah akan cintanya ke kamu selama 7 tahun ini, jagain kak Rey yaa na, sekarang giliran kamu yang dengerin ceritanya dan menemani hari-harinya.
-Nissa-”
 Aku tak bisa berkata apa-apa, lidahku kelu membaca semua isi surat dari Nissa. Aku hanya bisa menitikkan airmata. Yang disamarkan oleh hujan dan membalas pelukan Reyhan yang seolah mengatakan aku untuk tetap disisinya.
The end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar