3 mei
2013
Sepucuk surat dari Nissa
Karya : yusri nafisah
Puing-puing kenangan itu kini terasa bersatu lagi. Tapi hatiku
kini semakin hancur, mungkin kali ini benar-benar tak akan menyatu lagi setelah
aku melihat kebersamaannya dengan wanita itu. Wanita yang cantik dengan rambut
panjang terurai sampai bahu dan mengenakan gaun merah berdiri di samping
seorang pangeran yang telah lama kurindukan sosoknya 5 tahun ini.
Pesta reuni SMA kali ini membuatku merasa senang sekaligus
gugup tak karuan saat dia datang menghapiriku dan teman-temanku. Jujur saja aku
tak bisa berkonsentrasi pada dia yang sedari tadi menatapku. Maya dan fikiranku
hanya terfokus pada sosok wanita cantik itu. Wanita yang datang bersamanya di
pesta itu . aku rasa wanita itu bukan alumni akatanku, dan aku hafal betul sama
semua yang hadir di pesta malam itu kecuali mereka yang membawaistri atau
suaminya. Istri ??? mungkinkah itu istrinya ?? wanita cantik itu istri dari rey
?? reyhan mahendra ??? sosok yang aku tunggu selama 5 tahun ini.
Semua pertanyaan itu kini menggunung di kepalaku. Belum sempat
aku tanyakan semuanya pada rey. Dia sudah pamit pulang setelah mengangkat
telfon sebelumnya.
Pesta reuni malam itu tidak terlalu membuatku mendapatkan
kesan yang indah. Aku pulang denga diantar oleh Okan, salah satu teman osisku
sewaktu SMA.
Sejak pesta reuni SMA itu. Pekerjaanku kacau, aku tak dapat
menulis apapun. Fikiranku semuanya tertuju pada Rey. Fikiranku masih tentang
Rey dan wanita yang datang bersamanya di pesta.
Sudah 3 hari aku tidak menulis, padahal mbak Risma dari
penerbit sudah menagih terus tulisanku. Ku alihkan fikiranku dengan memutar
lagu BOA yang Distrubance.... aahh... ternyata aku salah memutar lagu karna
lagu itu malah semakin membuatku memikirkan Rey dan wanita itu. Ku coba alihkan
fikiranku dengan menonton TV , tiba-tiba Hp ku berbunyi tanda sms masuk.
“ hai na, lagi apa ? udah lama ya kita gak ketemu, ternyata
kamu makin cantik aja dengan gaun silvermu di pesta kemarin. Maaf aku tak lama
menemanimu dan harus pulang mengantar Nissa.... from : reyhan “
Seketika aku tertegun melihat pesan singkat yang dikirimkan no
baru itu, itu dari Reyhan. Ternyata wanita itu bernama Nissa. Nama yang cantik
sama seperti orangnya. Jari-jari ku membalas sms dari Rey.
“ hai juga Rey, lagi diem aja. Dari mana kamu tau nomor aku ?”
“kau tau dari buku tamu di pesta reuni kemarin....”
“ohh.. gimana kabarmu Rey ?”
“kabarku kurang baik na, oia daripada kamu diem, gimana kalo
kita jalan? Kan sekarang malem minggu”
Degggg.... hatiku terasa mendapatkan lemparan batu es
mendapatkan ajakan jalan dari Rey, tak berfikir panjan aku langsung setuju
dengan ajakannya.
07.30 malam...
Aku bersiap menuju cafe dekat sekolah SMA ku dulu. Cafe itu
pertama kali kami bertemu, di meja no 5 saat aku tak sengaja menumpahkan kopi
ke seragamnya Rey. Sedikit geli saat aku memikirkan kejadian 7 tahun lalu
itu. Saat kita sama-sama kelas 2 SMA.
Kenangan itu tak akan pernah aku lupakan karena itu merupakan sejarah yang
sanagt berharga bagi persahabatan aku dan Rey.
Sesampainya di cafe itu aku langsung mencari tempat duduk
favoritku dan Rey, meja no 5. Ternyata meja itu kosong, dan tak banyak berubah
dari setiap aksen di cafe itu.
Satu jam lebih aku menunggu Rey, tapi tak kunjung datang.
Sudah kuhabiskan 2 gelas kopi untuk menunggunya. Aku coba untuk menunggunya
lebih lama. Cafe hampir tutup ternyata Rey tak menunjukkan tanda-tanda
kedatangannya.
Dengan rasa kecewa, kuputuskan untuk pulang dan tak
menunggunya lagi. Hp ku berdering tanda sms masuk. Ternyata dari Rey.
“ na, sorry banget ya... aku gak bisa nemuin kamu sekarang,
nissa tiba-tiba sakit. Kamu gak nungguin aku samapai selarut ini kan ?”
Rey memang tak sering menepati janjinya. Dan kali ini pun dia
mengingkarinya lagi, dan itu karena Nissa. Mungkin Nissa lebih penting. Dengan menahan rasa kecewaku, aku membalas
smsnya.
“ya gak apa-apa Rey, aku gak nunggu kok... udah pulang
daritadi. Cepet sembuh ya Nissanya....”
“thanks na, kamu emnag selalu ngertiin aku. Syukur deh kalo
kamu gak nunggu, aku khawatir kamu nunggu lama”
Aku tak membalas smsnya lagi, aku tak kuasa harus
terus-terusan mentolelir diriku sendiri untuk baik dan peduli padanya. Sudah
cukup 5 tahun ini aku menunggunya, di tambah 2 jam saat di cafe tadi.
Belum juga mentari menampakkan diri sepenuhnya, aku sudah disibukkan
dengan packing baju-bajuku kedalam koper. Hari ini aku harus pergi ke Lombok
bersama tema-teman dari penerbit untuk menghadiri acara seminar editor selama
satu minggu disana. Selain menulis, aku juga bekerja sebagai editor disebuah
penerbit buku.
Semoga lombok bisa mengobati rasa kekecewaanku pada rey selama
ini.
Aku berangkat bersama Mba Risma dan tim editor lainnya. Selama
perjalanan aku tak merasa bersemangat, entah kenapa kepalaku terasa sakit,
mungkin karena aku tidur terlalu larut semalam. Sepanjang perjalanan menuju
lombok aku hanya memadang keluar jendela sambil sesekali mendengarkan musik
dari I-pad ku.
Sampai di Lombok, aku langsung menghadiri seminar. Tak pernah
ku sangka sebelumnya. Kalau ternyata Rey juga berada diruangan yang sama. Aku
mencoba meyakinkan diriku bahawa itu benar-benar Rey atau hanya halusinasiku.
Aku coba menyapanya, tapi kuurangkan niatku karena dia terlihat sibuk dengan
kliennya.
Pandangan ku tak pernah lepas memperhatikan sosok Rey yang
kini sudah banyak berubah, disela – sela kesibukkan nya tak telat terlihat dia
selalu menggenggam Hp dan seperti menunggu telfon dari seseorang tapi tak
pernah ada jawaban. Dan terlihat raut wajahnya yang khawatir, mungkin dia sibuk
menelfon Nissa dan mengkhawatirkannya karna ia sedang sakit. Fikirku.
“ aku merasa dekat dengannya meskipun aku hanya melihatnya dan
tak berada disampingnya, seolah harapan itu hadir kembali menyatukan puing –
puing perasaan yang telah hancur dan menghitam secara utuh”. Itu bab terakhir
tulisanku. Akhirnya novel keduaku selesai. Ternyata Lombok memang benar-benar
bisa membuatku kembali normal.
Sepulang dari Lombok aku baru mengaktifkan Hp ku. Sengaja aku
non aktifkan Hp selama seminggu agar pekerjaanku kelar dengan cepat. Dan tak
banyak yang mengganggu. 10 panggilan masuk tak terjawab. Dari Rey. Aku coba
tefon kembali Rey.
Tak lama telfonku tersambung dan aku langsung berbicara tanpa
menunggu omelan panjang dari Rey.
“Rey ada apa ? sorry Hp aku baru aktif”
“ ini Shaina ? aku Nissa”
Degggg.... hatiku terasa ditimbun jutaan bongkahan Es batu
mendengar suara Nissa di ujung Telfon sana.
“ iya Niss, Reyhannya ada ?”
“Rey lagi tidur, kayanya dia cape banget”
Tidur ??? apa mereka benar-benar sudah menikah?? Fikiranku
langsung kacau.
“ oohh.. yaudah kalo Rey nya udah bangun tolong bilangin aku
nelfon”.
Ku tutup secepat mungkin telfon itu. Tak terasa airmata sudah
secepat kilat membanjiri pipiku. Ternyata Rey yang aku tunggu sudah menjadi
milik orang lain. Aku tak kuasa menahan tangis. Kubiarkan air matalku benar-benar
membajiri pipiku.
Semalaman menangis dan pagi pun di sambut dengan guyuran
hujan. Tiba-tiba aku mendapat kabar dari okan kalau adiknya Rey meninggal.
Sontak aku kaget mendengar kabar di hari yang mendung ini. Aku memang tidak
terlalu mengenal keluarga Rey. Tapi aku pernah mendengar tentang adiknya Rey
yang tinggal di Singapur karena sakit gagal jantung dan harus mendapatkan medis
disana.
Kau menghadiri pemakaman adiknya Rey, aku tertegun ketika aku
membaca nisan yang bertuliskan Anissa Mahendra binti Joko Mahendra yang sedang
dipeluk oleh Rey. Tenyata Nissa yang selama ini aku sangka istri Rey, dia
adalah adiknya Rey. Aku sunggu menyesal tidak mengenal lebih banyak tentang
wanita cantik itu.
Usai pemakaman, aku coba berbicara dengan Rey dan mengucapkan
bela sungkawa padanya. Tetapi Rey malah memberi aku sepucuk surat dari Nissa.
“ dear... Sheina.
Haii... sheina, ternyata kamu lebih cantik dari yang
bayangkan. Mungkin saat kamu baca surat ini, aku sudah tidak ada di antara kamu
dna kak Rey. Kamu harus tau kalau aku sudah mulai bosan dengerin cerita kak Rey
tentang kamu selama 7 tahun ini, mulai saat kalian pertama bertemu di cafe
dekat sekolah. Aku kesel banget sama kak Rey, waktu dia nyusulin aku ke
Singapur setelah dia lulus SMA dan tenyata dia gak kasih tau kamu. Kakak aku
emang bodoh uadah bikin cewe secantik kamu kesepian dan nyari tau kabar dia
selama 5 tahun ini.
Tapi kamu harus tahu.. selama 5 tahun ini kak Rey
gak mau kehilangan info tentang kamu.. ( *nyebelin bangetkan dia ), kak Rey
utus mba Risma biar mba risma terima kamu kerja di perusahan yang sekarang,
kamu tahu mba risma kan ? dia itu tante aku sekaligus korban mata-matanya kak
Rey.
Waktu dia ketemu kamu di pesta reuni waktu itu, kak
Rey kaya orang yang baru dapet lotre. Senyam-senyum sendiri selama perjalanan
pulang. Dia juga utus Okan untuk anterin kamu karena dia khawatir sama kamu.
Lagi – lagi gara-gara aku kak Rey gak bisa anter kamu pulang.
Kau juga minta maaf banget saat malem minggu waktu
kalian mau bertemu, aku tiba-tiba masuk Rumah Sakit dan kak Rey gak jadi nemuin
kamu. Dan kamu tau ??? kak Rey panik banget waktu dia gak bisa hubungin kamu
selama seminggu. Padahal kalian sama-sama lagi di Lombok dan di tempat yang
sama. Sampai-sampai pas pulang dia cerita ampe ketiduran di pinggir tempat
tidur aku di Rumah Sakit.
Kak Rey emang orang yang suka telat kalo udah janji
tapi dia selalu nepatin janjinya kok. Jangan pernah nyerah sama kak Rey yaa....
karena kak Rey juga gak pernah nyerah akan cintanya ke kamu selama 7 tahun ini,
jagain kak Rey yaa na, sekarang giliran kamu yang dengerin ceritanya dan
menemani hari-harinya.
-Nissa-”
Aku
tak bisa berkata apa-apa, lidahku kelu membaca semua isi surat dari Nissa. Aku
hanya bisa menitikkan airmata. Yang disamarkan oleh hujan dan membalas pelukan
Reyhan yang seolah mengatakan aku untuk tetap disisinya.
The end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar