Kamis, 25 Juni 2015

kala hujan membanya pergi


Kala hujan membawanya pergi
Oleh: Yusri Nafisah
Kali ini bel sekolahku berbunyi lebih cepat 5 menit dari biasanya, ini adalah untuk yang kedua kalinya aku pindah sekolah dari sekolahku yang lama. Sekolahku kali ini nampak berbeda dengan sekolahku yang dulu, sekolahku kali ini berada di lingkungan pedesaan yang indah dan asri, kehidupanku secara otomatis berubah drastis dari sebelumnya. Kali ini aku tinggal bersama nenek yang tinggal di perkampungan di daerah bandung, aku di pindahkan karna menurut orangtuaku aku menjadi orang yang seketika sulit untuk bersosialisasi dan lebih senang mengurung diri di dalam kamar.
Ini adalah hari pertamaku masuk di sekolah baru, pagi itu aku sedikit terlambat karna perkampungan yang di guyur hujan semalam menyisakan titik-titik gerimis di pagi hari yang membuatku sedikit malas untuk pergi ke sekolah.
Seperti halnya murid baru yang lainnya aku masih merasa sangat canggung, jujur saja ini adalah awal yang membuatku merasa semakin jenuh, dengan gerimis di luar jendela kelas, hampir seharian aku tak memperhatikan pelajaran hari itu, aku sibuk dengan semua lamunan dan kekesalanku yang masih menuntut mengapa aku harus dipindahkan ke pedesaan yang sangat terpencil.
Sepulang sekolah, aku tak ingin berlama-lama berada disekolah. Kusegerakan kakiku melangkah untuk pulang, tiba-tiba kakiku terhenti di depan pintu gerbang utama sekolah dan tak meneruskan langkahku, aku tak suka sekujur tubuhku terguyur hujan yang membosankan ini tapi, apadaya hujan sudah dengan seketika membuatku tak bisa menghindarinya.
Dengan gontai ku langkahkan kakiku untuk meneruskan perjalanan pulang, aku terkejut ketika tiba-tiba ada payung berwarna kuning yang melindungiku dari guyuran hujan. Dengan santai si pemilik payung itu menyerahkannya padaku, seketika aku menghindar dari si pemilik payung itu dengan wajah yang penuh pertanyaan, tapi ia terus mengikuti langkahku dan selalu membuatku menjadi terlindungi oleh payungnya tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya ataupun dari mulutku, kami diam membisu sampai di depan rumah. Tanpa ku hiraukan aku masuk kedalam rumah dan menutup pintu.
^^^
Pagi ini mentari menyambut dengan hangat membuat embun di atas daun berkilau seperti permata dengan indahnya. Aku mulai terbiasa dengan suasana pedesaan yang sangat akrab dengan udara yang segar, aku memasuki kelas dengan semangat karna hari ini hujan tak menyembunyikan keindahan alam yang hijau dan kicauan burung yang terdengar riang di balik jendela kelas. Kusibakkan kaca jendela sehingga mentari dapat menebarkan cahaya hangatnya kesetiap sudut ruang kelas, entah mengapa hari ini suasana hatiku terasa nyaman padahal hari itu adalah hari yang paling menyebalkan bagi sebagian murid karena pelajaran matematika dan disambung dengan pelajaran fisika yang tak kunjung usai. 
Bel istirahatpun berbunyi...
Sorak semua murid membubarkan diri dan menyerbu kantin yang seketika berubah menjadi antrian padat seperti pasar induk. Aku duduk di kantin dengan ditemani segelas es jeruk, tiba-tiba pandanganku beralih pada sosok pria yang sedang duduk menyendiri di bawah pohon rindang di taman sekolah dengan buku yang menutupi sebagian wajahnya dan payung kuning yang terlipat rapi di pinggirnya, dia adalah Razi pria yang terkenal lebih senang menyendiri tapi memiliki banyak fans di kalangan murid wanita karena ketampanan dan kepintarannya, dia juga sama sepertiku seorang murid pindahan, tetapi ia lebih awal satu minggu dariku . Kuhampiri pria itu dengan membawa teh botol dan memberikan kepadanya.
Ku coba mengambil payung yang terlipat rapi itu untuk sekedar memastikan apakah payung itu sama dengan payung yang kemarin mengantarkanku pulang, belum juga aku sempat memastikannya, tiba-tiba tangan si pemilik payung itu menggenggamnya dengan cukup kuat.
“Kenapa tidur disini? kan panas?” seketika terlontar kata-kata itu dari mulutku sambil melonggarkan peganganku pada payung itu dan membuat pria itu terbangun.
 “Disini lebih nyaman,” jawabnya dengan singkat
“Emmm... makasih buat kemarin, ini sebagai tanda terimakasihku karna kamu telah mengantarkanku pulang tanpa ku minta.n” ucapku sambil beranjak pergi. Belum sempat aku menginggalkannya tiba-tiba tangannya menahanku dan membuatku terduduk kembali di sampingnya,
“ Kamu tuh orang teraneh yang pernah aku temui, kemarin terlihat murung dan jutek, dan sekarang terlihat sangat baik” ucapnya yang membuatku sedikit tertegun, tak ada kata yang dapat terlontar dari mulutku dan aku hanya terdiam.
Sejak saat itu aku dan Razi berteman, entah apa yang membuat kami menjadi sepasang teman dan membuat aku tak merasa kesal karna selalu di ikuti olehnya. Menurutku dia adalah orang pertama yang mau berbicara denganku disekolah.
Hampir satu bulan aku berteman dengannya, kami memiliki kebiasaan yang sangat berbeda, aku suka menulis dairy dan dia lebih suka menghafal perkalian secara mundur di selah waktunya.
^^^
Hari ini adalah hari yang spesial bagi seluruh murid SMA Budi Bakti, karna hari ini ada pentas seni di sekolah dimana seluruh murid yang memiliki bakat di bidang menyanyi akan menunjukkan keahliannya di depan seluruh siswa dari kelas 1 sampai kelas 3, aku dan Razi mengikuti jalannya acara sampai sore. Tiba-tiba hujan turun dan membuat semua siswa yang berada dilapangan menyembur memburu ruangan untuk melindungi diri mereka agar tak basah kuyup, aku pun sama seperti halnya siswa lain berlari mencari tempat yang dapat melindungiku dari guyuran hujan,
“Lagi-lagi hujan” gumamku dengan sedikit kesal.
Terdengar suara petikan gitar dari atas panggung di tengah guyuran hujan yang membuat suasana menjadi romantis,
“ Puisi ini aku persembahkan untuk vera, seseorang yang spesial bagiku”, sontak aku kaget mendengar namaku di sebut- sebut di atas panggung dengan pengeras suara. Tak ku sanggka Razi membawakan sebuah puisi romantis yang mewakili perasaannya saat itu padaku.
Tuhan...
Apa ini cinta ???
mengapa aku selalu memikirkannya ???
Ada apa dengan perasaan ini ???
Sudah sekian lama, jantung ini tak berdetak dengan kencang...
Seketika, aliran darahku terasa terhenti bila memikirkannya...
Kebersamaanku dengannya hanya terhitung sesaat..
Tapi mengapa ??
Mengapa seperti ini akhirnya??
Atau mungkin kali ini...
Aku benar –benar telah jatuh cinta padanya??
Aku hanya takut...
Aku takut mengakui keberadaan perasaan ini padanya...
Aku takut bila ia tak merasakan hal yang sama denganku..
Mungkin aku memang tak sebanding dengannya..
Dan Mungkin aku hanya sebatas mengaguminya..
Mengagumi sosok yang kini mulai ku cintai....
Aku hanya bisa tertegun mendengarkan petikan gitar acoustic dan pernyataan cinta yang disampaikan dalam balutan puisi yang dimainkannya, titik-titik air itu kini tidak hanya di langit, tapi sudah mulai merembet membanjiri pipiku. Aku berlari meninggalkan sekolah dan tak ku hiraukan suara riuh dari teman-teman yang lain yang memuji permainan gitar Razi dan memuji betapa beruntungnya aku mendapatkan perlakuan spesial dari seorang Razi.
Razi mengejarku tetapi aku tak menghiraukannya, aku terus berlari di bawah guyuran hujan yang sangat aku benci.
“Kenapa harus Razi?? Kenapa dia menyatakan cinta padaku disaat hujan? Hujan adalah moment yang paling aku benci” aku berteriak di tengah hujan sampai aku kehilangan arah dan terduduk.
Tiba-tiba payung kuning itu lagi-lagi melindungiku dari guyuran hujan.
“Aku tau kenapa kamu sangat benci hujan” suara yang sangat aku kenal membuat airmataku semakin tak tertahankan, “aku tahu semua yang kamu alami dari buku dairy ini” razi menyerahkan buku dairy milikku dan membuat aku menatap ke arahnya, “kamu bilang kamu benci dengan hujan, karna hujan telah merenggut dia dihari saat dia menyatakan cinta padamu, hujan telah merenggut dia karna itu adalah awal dari kebahagiaanmu dengannya, tapi itu semua adalah takdir ve, itu takdir dari tuhan yang sudah di gariskan untuknya, kamu tidak bisa selamanya membenci hujan karna dia” ucap razi menyadarkanku betapa bodohnya aku terkungkung oleh masalalu. aku berdiri menatap razi dengan airmata yang masih membasahi pipiku, seketika aku memegang payung kuning itu dengan erat
“ Mulai saat ini aku akan menyukai hujan karnamu”.
The end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar