Kala hujan membawanya pergi
Oleh: Yusri Nafisah
Kali ini bel
sekolahku berbunyi lebih cepat 5 menit dari biasanya, ini adalah untuk yang
kedua kalinya aku pindah sekolah dari sekolahku yang lama. Sekolahku kali ini
nampak berbeda dengan sekolahku yang dulu, sekolahku kali ini berada di
lingkungan pedesaan yang indah dan asri, kehidupanku secara otomatis berubah
drastis dari sebelumnya. Kali ini aku tinggal bersama nenek yang tinggal di
perkampungan di daerah bandung, aku di pindahkan karna menurut orangtuaku aku
menjadi orang yang seketika sulit untuk bersosialisasi dan lebih senang
mengurung diri di dalam kamar.
Ini adalah hari
pertamaku masuk di sekolah baru, pagi itu aku sedikit terlambat karna perkampungan
yang di guyur hujan semalam menyisakan titik-titik gerimis di pagi hari yang
membuatku sedikit malas untuk pergi ke sekolah.
Seperti halnya
murid baru yang lainnya aku masih merasa sangat canggung, jujur saja ini adalah
awal yang membuatku merasa semakin jenuh, dengan gerimis di luar jendela kelas,
hampir seharian aku tak memperhatikan pelajaran hari itu, aku sibuk dengan
semua lamunan dan kekesalanku yang masih menuntut mengapa aku harus dipindahkan
ke pedesaan yang sangat terpencil.
Sepulang sekolah,
aku tak ingin berlama-lama berada disekolah. Kusegerakan kakiku melangkah untuk
pulang, tiba-tiba kakiku terhenti di depan pintu gerbang utama sekolah dan tak
meneruskan langkahku, aku tak suka sekujur tubuhku terguyur hujan yang
membosankan ini tapi, apadaya hujan sudah dengan seketika membuatku tak bisa
menghindarinya.
Dengan gontai ku
langkahkan kakiku untuk meneruskan perjalanan pulang, aku terkejut ketika
tiba-tiba ada payung berwarna kuning yang melindungiku dari guyuran hujan.
Dengan santai si pemilik payung itu menyerahkannya padaku, seketika aku
menghindar dari si pemilik payung itu dengan wajah yang penuh pertanyaan, tapi ia
terus mengikuti langkahku dan selalu membuatku menjadi terlindungi oleh
payungnya tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya ataupun dari mulutku,
kami diam membisu sampai di depan rumah. Tanpa ku hiraukan aku masuk kedalam
rumah dan menutup pintu.
^^^
Pagi ini mentari
menyambut dengan hangat membuat embun di atas daun berkilau seperti permata
dengan indahnya. Aku mulai terbiasa dengan suasana pedesaan yang sangat akrab
dengan udara yang segar, aku memasuki kelas dengan semangat karna hari ini
hujan tak menyembunyikan keindahan alam yang hijau dan kicauan burung yang
terdengar riang di balik jendela kelas. Kusibakkan kaca jendela sehingga
mentari dapat menebarkan cahaya hangatnya kesetiap sudut ruang kelas, entah
mengapa hari ini suasana hatiku terasa nyaman padahal hari itu adalah hari yang
paling menyebalkan bagi sebagian murid karena pelajaran matematika dan
disambung dengan pelajaran fisika yang tak kunjung usai.
Bel istirahatpun
berbunyi...
Sorak semua murid
membubarkan diri dan menyerbu kantin yang seketika berubah menjadi antrian
padat seperti pasar induk. Aku duduk di kantin dengan ditemani segelas es jeruk,
tiba-tiba pandanganku beralih pada sosok pria yang sedang duduk menyendiri di
bawah pohon rindang di taman sekolah dengan buku yang menutupi sebagian
wajahnya dan payung kuning yang terlipat rapi di pinggirnya, dia adalah Razi
pria yang terkenal lebih senang menyendiri tapi memiliki banyak fans di
kalangan murid wanita karena ketampanan dan kepintarannya, dia juga sama
sepertiku seorang murid pindahan, tetapi ia lebih awal satu minggu dariku .
Kuhampiri pria itu dengan membawa teh botol dan memberikan kepadanya.
Ku coba mengambil
payung yang terlipat rapi itu untuk sekedar memastikan apakah payung itu sama
dengan payung yang kemarin mengantarkanku pulang, belum juga aku sempat
memastikannya, tiba-tiba tangan si pemilik payung itu menggenggamnya dengan cukup
kuat.
“Kenapa tidur
disini? kan panas?” seketika terlontar kata-kata itu dari mulutku sambil
melonggarkan peganganku pada payung itu dan membuat pria itu terbangun.
“Disini lebih nyaman,” jawabnya dengan singkat
“Emmm... makasih
buat kemarin, ini sebagai tanda terimakasihku karna kamu telah mengantarkanku
pulang tanpa ku minta.n” ucapku sambil beranjak pergi. Belum sempat aku
menginggalkannya tiba-tiba tangannya menahanku dan membuatku terduduk kembali
di sampingnya,
“ Kamu tuh orang
teraneh yang pernah aku temui, kemarin terlihat murung dan jutek, dan sekarang
terlihat sangat baik” ucapnya yang membuatku sedikit tertegun, tak ada kata
yang dapat terlontar dari mulutku dan aku hanya terdiam.
Sejak saat itu
aku dan Razi berteman, entah apa yang membuat kami menjadi sepasang teman dan
membuat aku tak merasa kesal karna selalu di ikuti olehnya. Menurutku dia
adalah orang pertama yang mau berbicara denganku disekolah.
Hampir satu bulan
aku berteman dengannya, kami memiliki kebiasaan yang sangat berbeda, aku suka
menulis dairy dan dia lebih suka menghafal perkalian secara mundur di selah
waktunya.
^^^
Hari ini adalah
hari yang spesial bagi seluruh murid SMA Budi Bakti, karna hari ini ada pentas
seni di sekolah dimana seluruh murid yang memiliki bakat di bidang menyanyi
akan menunjukkan keahliannya di depan seluruh siswa dari kelas 1 sampai kelas
3, aku dan Razi mengikuti jalannya acara sampai sore. Tiba-tiba hujan turun dan
membuat semua siswa yang berada dilapangan menyembur memburu ruangan untuk
melindungi diri mereka agar tak basah kuyup, aku pun sama seperti halnya siswa
lain berlari mencari tempat yang dapat melindungiku dari guyuran hujan,
“Lagi-lagi hujan”
gumamku dengan sedikit kesal.
Terdengar suara
petikan gitar dari atas panggung di tengah guyuran hujan yang membuat suasana
menjadi romantis,
“ Puisi ini aku
persembahkan untuk vera, seseorang yang spesial bagiku”, sontak aku kaget
mendengar namaku di sebut- sebut di atas panggung dengan pengeras suara. Tak ku
sanggka Razi membawakan sebuah puisi romantis yang mewakili perasaannya saat
itu padaku.
“Tuhan...
Apa ini cinta ???
mengapa aku selalu memikirkannya ???
mengapa aku selalu memikirkannya ???
Ada apa dengan perasaan ini ???
Sudah sekian lama, jantung ini tak berdetak dengan
kencang...
Seketika, aliran darahku terasa terhenti bila
memikirkannya...
Kebersamaanku dengannya hanya terhitung sesaat..
Tapi mengapa ??
Mengapa seperti ini akhirnya??
Atau mungkin kali ini...
Aku benar –benar telah jatuh cinta padanya??
Aku hanya takut...
Aku takut mengakui keberadaan perasaan ini
padanya...
Aku takut bila ia tak merasakan hal yang sama
denganku..
Mungkin aku memang tak sebanding dengannya..
Dan Mungkin aku hanya sebatas mengaguminya..
Mengagumi sosok yang kini mulai ku cintai....
Aku hanya bisa tertegun
mendengarkan petikan gitar acoustic dan pernyataan cinta yang disampaikan dalam
balutan puisi yang dimainkannya, titik-titik air itu kini tidak hanya di langit,
tapi sudah mulai merembet membanjiri pipiku. Aku berlari meninggalkan sekolah dan tak ku
hiraukan suara riuh dari teman-teman yang lain yang memuji permainan gitar Razi
dan memuji betapa beruntungnya aku mendapatkan perlakuan spesial dari seorang
Razi.
Razi mengejarku
tetapi aku tak menghiraukannya, aku terus berlari di bawah guyuran hujan yang
sangat aku benci.
“Kenapa harus
Razi?? Kenapa dia menyatakan cinta padaku disaat hujan? Hujan adalah moment
yang paling aku benci” aku berteriak di tengah hujan sampai aku kehilangan arah
dan terduduk.
Tiba-tiba payung
kuning itu lagi-lagi melindungiku dari guyuran hujan.
“Aku tau kenapa
kamu sangat benci hujan” suara yang sangat aku kenal membuat airmataku semakin
tak tertahankan, “aku tahu semua yang kamu alami dari buku dairy ini” razi
menyerahkan buku dairy milikku dan membuat aku menatap ke arahnya, “kamu bilang
kamu benci dengan hujan, karna hujan telah merenggut dia dihari saat dia
menyatakan cinta padamu, hujan telah merenggut dia karna itu adalah awal dari
kebahagiaanmu dengannya, tapi itu semua adalah takdir ve, itu takdir dari tuhan
yang sudah di gariskan untuknya, kamu tidak bisa selamanya membenci hujan karna
dia” ucap razi menyadarkanku betapa bodohnya aku terkungkung oleh masalalu. aku
berdiri menatap razi dengan airmata yang masih membasahi pipiku, seketika aku
memegang payung kuning itu dengan erat
“ Mulai saat ini aku
akan menyukai hujan karnamu”.
The end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar